Gelar cumlaude yang diraih setelah menyelesaikan pendidikan tinggi ternyata belum menjadi jaminan seseorang langsung mendapatkan pekerjaan. Pengalaman tersebut dirasakan Nur Karima, alumnus UIN Syekh Wasil Kediri yang sempat menghadapi sulitnya mencari pekerjaan setelah menyandang gelar sarjana.
Karima merupakan lulusan Program Studi Ekonomi Syariah. Setelah menyelesaikan kuliah, perempuan asal Kecamatan Ngadiluwih tersebut mencoba mengirimkan lamaran ke berbagai perusahaan.
Bukan hanya pekerjaan yang sesuai dengan bidang pendidikannya, berbagai posisi di luar latar belakang kuliah juga dicoba. Namun, sebagian besar lamaran yang dikirim belum membuahkan hasil.
Situasi tersebut akhirnya membuat Karima mengubah cara pandangnya dalam mencari pekerjaan. Ia tidak lagi terlalu membatasi pilihan pekerjaan. Baginya kala itu, mendapatkan pekerjaan dan pengalaman menjadi hal yang jauh lebih penting.
“Saya sempat merasa ijazah saya tidak banyak membantu saat mencari pekerjaan. Lamaran sudah dikirim ke beberapa tempat, tetapi panggilan hampir tidak ada. Akhirnya saya mencoba melamar ke berbagai bidang, yang penting bisa bekerja,” ujar alumnus MAN 1 Sumenep tersebut.
Kesempatan akhirnya datang pada 2019. Karima diterima bekerja di sebuah usaha yang bergerak di bidang dekorasi pernikahan. Posisi awal yang ditempatinya adalah sebagai admin.
Meski demikian, lingkungan kerja membuat tugasnya berkembang jauh lebih luas. Karena ikut terlibat dalam pekerjaan lapangan, Karima mulai mengenal berbagai tahapan di balik penyelenggaraan sebuah acara.
Ia belajar berkomunikasi dengan vendor, menyiapkan berbagai kebutuhan acara, melakukan koordinasi di lapangan, hingga mencari solusi ketika muncul kendala pada saat pelaksanaan acara.
Pengalaman tersebut perlahan membuatnya tertarik menekuni dunia event organizer, khususnya wedding organizer. Selama kurang lebih dua tahun bekerja, Karima mendapatkan banyak pengetahuan sekaligus membangun jaringan yang kemudian menjadi modal penting untuk memulai usaha sendiri.
Pada 2022, ia akhirnya memberanikan diri mendirikan bisnis wedding organizer. Momentum tersebut bertepatan dengan mulai bergairahnya kembali industri penyelenggaraan acara setelah aktivitas masyarakat berangsur pulih dari pandemi Covid-19.
Selain pengalaman, jaringan yang telah dibangun selama bekerja sebelumnya turut memberikan kepercayaan diri untuk mengambil langkah tersebut.
“Relasi yang saya dapatkan dari tempat kerja sebelumnya menjadi salah satu alasan saya berani mencoba membuka usaha sendiri,” kata perempuan kelahiran 1996 itu.
Bisnis yang dibangunnya kemudian berkembang secara bertahap. Promosi dari pelanggan ke pelanggan serta rekomendasi dari orang-orang yang telah menggunakan jasanya menjadi salah satu sumber datangnya klien.
Saat ini, layanan yang ditawarkan tidak hanya berkaitan dengan penyelenggaraan pesta pernikahan. Karima juga menerima berbagai kebutuhan acara, mulai dari paket lamaran, jasa hantaran, hingga konsep pernikahan secara menyeluruh.
Jumlah pelanggan yang terus bertambah bahkan membuatnya harus membatasi jumlah pesanan agar kualitas pelayanan tetap terjaga.
“Kadang ada pekerjaan yang harus saya tolak karena ingin memastikan setiap klien tetap mendapatkan pelayanan yang maksimal,” tuturnya.
Perjalanan tersebut membuat Karima tidak lagi sekadar menjadi seorang pekerja. Dari pengalaman yang diperolehnya, kini ia justru mampu menciptakan kesempatan kerja bagi orang lain.
Dalam menjalankan bisnisnya, terdapat lima orang yang menjadi bagian dari tim inti. Selain itu, Karima juga melibatkan sekitar 20 pekerja lepas atau freelancer ketika menangani sejumlah acara.
Kisah Karima menunjukkan bahwa latar belakang pendidikan bukan satu-satunya penentu arah karier seseorang. Pengalaman yang awalnya diperoleh dari pekerjaan yang tidak direncanakan justru dapat menjadi jalan untuk menemukan bidang yang sesuai dengan minat dan kemampuan.
Ia berharap generasi muda tidak mudah menutup diri terhadap kesempatan baru hanya karena pekerjaan tersebut tidak sesuai dengan jurusan yang ditempuh di bangku kuliah.
Menurutnya, pekerjaan apa pun bisa menjadi awal untuk membuka peluang berikutnya, selama dijalankan dengan sungguh-sungguh, jujur, dan tidak merugikan orang lain.
“Jangan meremehkan kesempatan kecil. Kita tidak pernah tahu sesuatu yang awalnya hanya dicoba-coba justru bisa berkembang menjadi besar. Dari pengalaman dan relasi, kita akhirnya bisa menentukan langkah yang lebih tepat,” pesannya.
(Red/hep)