,

Polrestabes Medan Bongkar Peredaran 'Pod Getar', 128 Vape Berisi Narkoba Disita dari Hotel

Jaringan Malaysia Edarkan Narkoba di Hotel Medan (PHOTO BY LIPUTAN6.COM)


JAKARTA- Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polrestabes Medan kembali mengungkap praktik peredaran narkotika dengan modus baru. Seorang pria berinisial MG (30) ditangkap saat diduga hendak mendistribusikan ratusan vape atau rokok elektrik yang telah dimodifikasi dan berisi narkotika jenis cair. Produk ilegal tersebut dikenal di kalangan pengguna dengan sebutan "Pod Getar".

Pelaku diamankan saat berada di sebuah hotel di kawasan Jalan Sei Batang Hari, Kota Medan. Dalam penggerebekan itu, polisi menemukan sebanyak 128 unit vape berisi narkoba yang sengaja disembunyikan di bawah bantal kamar hotel untuk menghindari kecurigaan.

Pengungkapan kasus tersebut dipimpin langsung oleh Kasatresnarkoba Polrestabes Medan, AKBP Rafli Yusuf Nugraha, bersama Kanit III Satresnarkoba IPTU Berry Anggara, setelah tim melakukan penyelidikan selama beberapa hari terhadap aktivitas jaringan tersebut.

AKBP Rafli menjelaskan, MG merupakan warga Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deliserdang. Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, pelaku hanya berperan sebagai kurir sekaligus penyimpan barang sebelum diedarkan sesuai arahan pengendali jaringan yang diduga berada di Malaysia.

"Ini merupakan hasil penyelidikan tim selama beberapa hari. Kami mengamankan 128 vape narkoba atau 'Pod Getar' beserta dua unit telepon seluler milik pelaku. Barang bukti ditemukan tersimpan di bawah bantal kamar hotel tempat pelaku menginap," ujar AKBP Rafli Yusuf Nugraha, Senin (6/7/2026).

Modus Disamarkan Seperti Vape Legal

Dalam menjalankan aksinya, jaringan ini menggunakan modus penyamaran agar produk yang dibawa tidak menimbulkan kecurigaan aparat maupun masyarakat. Seluruh vape dikemas menyerupai rokok elektrik legal yang beredar di pasaran.

Kemasan dibuat menggunakan wadah berwarna hitam polos tanpa merek dagang. Untuk memberikan kesan produk resmi, pelaku hanya menempelkan stiker hologram bertuliskan "QC" (Quality Control) sebagai segel, sehingga tampak seperti produk yang telah melalui proses pemeriksaan kualitas.

Polisi menduga kemasan sederhana tersebut sengaja dibuat agar mudah dipasarkan sekaligus menyulitkan petugas dalam membedakan produk legal dengan yang mengandung narkotika.

Diselundupkan dari Malaysia Lewat Jalur Laut

Hasil penyelidikan mengungkap bahwa barang haram tersebut berasal dari Malaysia dan diselundupkan ke Indonesia melalui jalur laut menuju Tanjung Balai, Sumatera Utara.

Setelah tiba di Tanjung Balai, vape berisi narkoba kemudian dibawa ke Kota Medan sebelum akhirnya diserahkan kepada MG melalui seorang perantara yang diketahui merupakan teman kuliah pelaku.

Selama berada di Medan, MG bertugas menyimpan barang di hotel sambil menunggu instruksi dari bandar terkait lokasi dan waktu pendistribusian berikutnya.

"MG hanya bertugas mengamankan barang sambil menunggu arahan distribusi dari pengendali jaringan yang berada di Malaysia," jelas Rafli.

Polisi Kejar Bandar dan Jaringan Internasional

Saat ini, Satresnarkoba Polrestabes Medan telah mengantongi identitas sejumlah pihak yang diduga terlibat dalam jaringan tersebut. Polisi tengah memburu pemasok lokal yang menyerahkan barang kepada MG, sekaligus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk mengejar bandar utama yang diduga beroperasi dari Malaysia.

Penyelidikan juga terus dikembangkan guna mengungkap kemungkinan adanya jaringan distribusi lain yang menggunakan modus serupa di berbagai wilayah Indonesia.

AKBP Rafli menegaskan, pihaknya berkomitmen memberantas seluruh bentuk peredaran narkotika, termasuk yang menggunakan metode baru seperti penyelundupan melalui vape.

"Kami pastikan para bandar bisa berlari, tetapi tidak akan bisa bersembunyi dari Satuan Reserse Narkoba Polrestabes Medan. Bagaimanapun cara mereka berkamuflase dan menciptakan modus baru, akan terus kami ungkap," tegasnya.

Polisi mengimbau masyarakat, khususnya generasi muda, untuk lebih berhati-hati terhadap produk vape tanpa merek atau yang dijual secara ilegal. Sebab, bukan tidak mungkin perangkat tersebut telah dimodifikasi dan mengandung zat narkotika yang dapat membahayakan kesehatan sekaligus menjerat penggunanya dalam tindak pidana narkoba.(red/lis)

Continue reading Polrestabes Medan Bongkar Peredaran 'Pod Getar', 128 Vape Berisi Narkoba Disita dari Hotel
, ,

Rokok Ilegal Disembunyikan di Bawah Sekam, Bea Cukai Malang Gagalkan Pengiriman Besar

  

Rokok yang disita dalam razia (photo by radar malang)

MALANG- Tim Bea Cukai Malang kembali menunjukkan komitmennya dalam memberantas peredaran rokok ilegal dengan melakukan penindakan tidak hanya pada malam hari, tetapi juga di pagi hari. Dalam salah satu operasi terbaru, petugas berhasil menggagalkan pengiriman rokok ilegal dalam jumlah besar di wilayah Kabupaten Malang.

Pengungkapan bermula dari informasi intelijen

Penindakan tersebut terjadi pada 29 Juni di Jalan Raya Kedungrejo, Desa Kedungboto, Kecamatan Pakis. Sekitar pukul 08.00 WIB, tim Bea Cukai menerima informasi adanya sebuah truk berwarna putih-biru yang dicurigai mengangkut rokok ilegal dan melintas di kawasan tersebut.

Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KP2BC) Tipe Madya Cukai Malang, Johan Pandores, menjelaskan bahwa setelah menerima laporan tersebut, petugas langsung melakukan pemantauan dan pengejaran terhadap kendaraan yang dimaksud.

“Setelah memastikan posisi kendaraan di wilayah Pakis, petugas kemudian melakukan pengejaran hingga akhirnya berhasil menghentikannya,” ujarnya.

Rokok ilegal disembunyikan di bawah tumpukan sekam

Saat dilakukan pemeriksaan menyeluruh, petugas menemukan bahwa muatan rokok ilegal disamarkan dengan cara ditutupi tumpukan sekam di dalam bak truk. Modus ini diduga digunakan untuk mengelabui petugas selama perjalanan.

Dari hasil penggeledahan, ditemukan berbagai merek rokok yang terdiri dari jenis Sigaret Kretek Mesin (SKM) dan Sigaret Putih Mesin (SPM). Seluruh barang tersebut tidak dilekati pita cukai sebagaimana ketentuan yang berlaku.

Beberapa merek yang ditemukan di antaranya Premium Bold, Humer, serta sejumlah merek lain yang tidak memiliki izin cukai resmi.

Jumlah barang bukti sangat besar

Dalam operasi tersebut, Bea Cukai Malang berhasil mengamankan total 53.980 bungkus rokok ilegal atau setara dengan sekitar 1.079.600 batang. Jumlah ini menunjukkan skala peredaran yang cukup besar dan terorganisir.

Dari hasil perhitungan, nilai barang ilegal yang diamankan diperkirakan mencapai sekitar Rp1,63 miliar. Sementara itu, potensi kerugian negara akibat tidak dibayarkannya cukai ditaksir mencapai Rp826 juta lebih.

Komitmen pemberantasan rokok ilegal

Pihak Bea Cukai menegaskan bahwa penindakan terhadap peredaran rokok ilegal akan terus dilakukan secara intensif, baik melalui operasi siang maupun malam hari. Hal ini dilakukan untuk menutup celah distribusi barang kena cukai ilegal yang merugikan negara sekaligus menciptakan persaingan usaha yang tidak sehat.

Kasus ini menambah daftar panjang penindakan rokok ilegal di wilayah Malang Raya, yang sebagian besar menggunakan modus serupa, yakni menyamarkan barang dengan muatan lain untuk menghindari pemeriksaan petugas.

Dengan pengungkapan ini, Bea Cukai berharap dapat memberikan efek jera kepada para pelaku sekaligus menekan peredaran rokok ilegal di pasaran.(red/lis)

Continue reading Rokok Ilegal Disembunyikan di Bawah Sekam, Bea Cukai Malang Gagalkan Pengiriman Besar
, ,

Heboh Penemuan Bayi di Toilet KA Sancaka Relasi Yogyakarta–Surabaya

Petugas KA menemukan bayi di dalam toilet Kereta Eksekutif 3 (photo by liputan.com)


Jakarta – Peristiwa memilukan terjadi di dalam perjalanan Kereta Api Sancaka 84B relasi Yogyakarta–Surabaya Gubeng. Seorang bayi laki-laki ditemukan dalam kondisi terlantar di lantai toilet salah satu gerbong kereta pada Sabtu (4/7/2026). Bayi yang tidak berdosa itu diduga sengaja ditinggalkan oleh pihak yang hingga kini masih dalam penyelidikan aparat kepolisian.

Penemuan bayi tersebut sontak menggemparkan para penumpang yang berada di dalam rangkaian kereta. Saat ditemukan sekitar pukul 07.20 WIB, kereta sedang melaju dari wilayah Solo menuju Surabaya. Bayi itu berada di dalam toilet Kereta Eksekutif 3 dengan kondisi terbungkus selimut.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, penemuan bayi bermula ketika petugas pelayanan kereta melakukan pemeriksaan rutin terhadap seluruh gerbong dan fasilitas penumpang selama perjalanan. Saat memeriksa kondisi toilet, petugas dikejutkan oleh keberadaan seorang bayi yang tergeletak di lantai.

Setelah memastikan kondisi bayi, petugas segera melaporkan temuan tersebut kepada Pusat Pengendalian Pelayanan PT KAI dan berkoordinasi dengan Stasiun Solo Balapan sebagai stasiun pemberhentian terdekat.

Untuk mencari keberadaan orang tua atau pihak yang bertanggung jawab atas bayi tersebut, petugas sempat mengumumkan informasi melalui pengeras suara di seluruh gerbong. Namun, hingga kereta tiba di tujuan pemberhentian berikutnya, tidak ada seorang pun penumpang yang mengaku sebagai orang tua maupun keluarga bayi tersebut.

Manajer Humas PT KAI Daop 6 Yogyakarta, Feni Novida Saragih, menjelaskan bahwa seluruh prosedur penanganan darurat langsung dilakukan begitu bayi ditemukan. Keselamatan bayi menjadi prioritas utama sebelum diserahkan kepada pihak berwenang.

Sesampainya di Stasiun Solo Balapan sekitar pukul 07.30 WIB, bayi segera dievakuasi menuju Pos Kesehatan stasiun untuk menjalani pemeriksaan awal oleh tenaga medis. Dari hasil observasi dokter dan bidan Klinik Mediska KAI Solo, kondisi bayi dinyatakan sehat, stabil, serta tidak ditemukan tanda-tanda gangguan kesehatan yang mengancam jiwa.

Setelah pemeriksaan awal selesai, bayi kemudian diserahkan kepada aparat kepolisian dan dirujuk ke Rumah Sakit Bhayangkara Surakarta guna mendapatkan perawatan medis lanjutan serta pemantauan intensif.

Kasus tersebut langsung ditangani oleh Satreskrim Polresta Solo bersama Unit Reskrim Polsek Banjarsari. Aparat bergerak cepat melakukan serangkaian penyelidikan untuk mengungkap identitas pelaku yang diduga tega meninggalkan bayi tersebut di dalam toilet kereta.

Kapolsek Banjarsari, Kompol Harno, mengatakan bahwa penyelidikan dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan berbagai unsur, termasuk bekerja sama dengan PT KAI Daop 6 Yogyakarta. Polisi melakukan olah tempat kejadian perkara, memeriksa saksi-saksi, mengumpulkan barang bukti, hingga menelusuri rekaman kamera pengawas (CCTV) di stasiun maupun di area yang berkaitan dengan perjalanan kereta.

Menurut Harno, seluruh proses penyelidikan masih terus berlangsung untuk memastikan siapa pihak yang bertanggung jawab atas peristiwa tersebut.

"Seluruh rangkaian penyelidikan sedang kami lakukan, termasuk berkoordinasi dengan PT KAI Daop 6 Yogyakarta untuk mengungkap siapa yang diduga meninggalkan bayi tersebut," ujarnya.

Ia menegaskan bahwa di tengah proses penyelidikan, keselamatan dan kesehatan bayi tetap menjadi prioritas utama. Oleh karena itu, bayi tersebut masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Bhayangkara Surakarta agar kondisinya terus terpantau oleh tim medis.

Selain melakukan penyelidikan, Polresta Solo juga mengajak masyarakat untuk berpartisipasi membantu proses pengungkapan kasus. Warga yang mengetahui informasi terkait kejadian tersebut diminta segera melapor kepada pihak kepolisian. Informasi sekecil apa pun dinilai dapat membantu mempercepat identifikasi pelaku dan proses penyidikan.

Kepolisian juga mengimbau masyarakat agar semakin meningkatkan kepedulian terhadap perlindungan anak. Aparat menegaskan bahwa setiap anak berhak memperoleh perlindungan, kasih sayang, dan lingkungan yang aman. Masyarakat diharapkan tidak melakukan tindakan yang dapat membahayakan keselamatan bayi maupun anak dalam kondisi apa pun, serta memanfaatkan jalur bantuan yang tersedia apabila menghadapi persoalan sosial atau keluarga yang berpotensi mengancam keselamatan anak.(red/lis) 

Continue reading Heboh Penemuan Bayi di Toilet KA Sancaka Relasi Yogyakarta–Surabaya
, ,

25 Tahun Bersama, Berpisah karena Cinta yang Bersemi di TikTok

(photo by radar bromo)


KEDIRI- Tak pernah terlintas dalam benak Inyong (45), bukan nama sebenarnya, bahwa rumah tangga yang dibangunnya selama lebih dari dua dekade harus kandas. Bukan karena persoalan ekonomi, kekerasan, atau pertengkaran yang tak berujung, melainkan karena hadirnya orang ketiga yang berawal dari media sosial, TikTok.

Saat ditemui pihak media, warga Kabupaten Probolinggo itu berkisah dengan nada tenang. Sesekali ia menarik napas panjang, seolah berusaha menahan kenangan yang masih membekas. Tak tampak lagi kemarahan dalam raut wajahnya. Yang tersisa hanyalah rasa kecewa dan penerimaan bahwa tidak semua kisah cinta mampu bertahan hingga akhir.

Perjalanan rumah tangganya dimulai pada awal tahun 2000-an. Kala itu, internet belum menjadi bagian dari kehidupan masyarakat desa. Media sosial belum dikenal luas, sementara telepon seluler masih tergolong barang mewah.

Inyong menikahi Intan (40), juga nama samaran, dengan harapan membangun keluarga sederhana namun harmonis. Setelah menikah, ia bekerja sebagai pengangkut sampah menuju tempat pembuangan akhir (TPA) milik pemerintah daerah. Pendapatannya memang tidak besar, tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Sementara itu, sang istri memilih fokus mengurus rumah tangga. Hari-harinya dihabiskan memasak, mencuci pakaian, membersihkan rumah, sekaligus merawat suami dan anak-anak.

"Saya kerja dari pagi sampai sore. Pulang memang capek, tapi rasanya senang karena di rumah ada istri dan anak-anak yang menunggu," kenangnya.

Dua tahun setelah menikah, pasangan tersebut dikaruniai seorang putra. Beberapa tahun kemudian lahir anak kedua yang semakin melengkapi kebahagiaan keluarga kecil mereka.

Mereka hidup sederhana di sebuah desa di Kabupaten Probolinggo. Rumah yang tidak mewah menjadi saksi perjuangan keduanya membangun kehidupan dari nol. Meski kerap menghadapi keterbatasan ekonomi, mereka mampu melewati berbagai persoalan bersama.

Selama bertahun-tahun, rumah tangga mereka berjalan tanpa gejolak berarti. Rutinitas berlangsung nyaris sama setiap hari. Pagi hari Inyong berangkat bekerja, sedangkan istrinya mengurus rumah dan anak-anak. Sore hari mereka berkumpul kembali, menikmati makan malam bersama dan berbincang mengenai aktivitas masing-masing.

"Saya selalu merasa rumah tangga kami baik-baik saja," ujarnya.

Perubahan mulai terasa sekitar tahun 2015 ketika akses internet mulai menjangkau desa tempat mereka tinggal. Sang istri mulai mengenal dunia digital.

Awalnya, telepon genggam hanya digunakan untuk berkomunikasi melalui aplikasi pesan. Namun perlahan, ia mulai aktif menggunakan Facebook, WhatsApp, Instagram, hingga akhirnya menjadi pengguna TikTok.

Sebagai suami, Inyong mengaku tidak pernah membatasi aktivitas istrinya di media sosial. Menurutnya, mengikuti perkembangan teknologi merupakan hal yang wajar.

"Saya tidak pernah melarang. Saya pikir itu hanya hiburan supaya tidak bosan di rumah," katanya.

Namun, tanpa disadari, kebiasaan tersebut perlahan mengubah perilaku sang istri.

Perubahan pertama yang ia rasakan adalah penampilan. Jika sebelumnya Intan dikenal sederhana seperti perempuan desa pada umumnya, kini ia mulai lebih sering berdandan. Wajahnya hampir selalu dirias, sementara gaya berpakaiannya berubah menjadi lebih modis dibanding sebelumnya.

Pada awalnya, perubahan itu tidak dianggap sebagai masalah.

"Saya pikir mungkin ingin tampil lebih cantik. Saya tidak mempermasalahkan," tuturnya.

Seiring berjalannya waktu, perubahan tersebut semakin terlihat. Bahkan ketika keluar rumah, sang istri dinilai mulai mengenakan pakaian yang berbeda jauh dari kebiasaannya selama bertahun-tahun.

Situasi mulai berubah drastis pada 2023. Saat itu Intan aktif melakukan siaran langsung atau live di TikTok. Dalam setiap siaran, banyak pengguna laki-laki yang bergabung, menyapa, bercanda, hingga mengirim hadiah virtual.

Sementara itu, Inyong tetap menjalani rutinitasnya bekerja dari pagi hingga sore. Ia mengaku sama sekali tidak mengetahui aktivitas istrinya di media sosial.

Tak lama kemudian, hubungan mereka sebagai suami istri mulai mengalami perubahan. Intan semakin sering menolak ketika diajak berhubungan intim.

Alasannya beragam, mulai dari kelelahan, mengantuk, hingga mengaku sedang tidak enak badan.

"Di situ saya mulai merasa ada yang berubah, tetapi saya belum tahu penyebabnya," katanya.

Rasa penasaran membuatnya beberapa kali mencoba memeriksa telepon genggam sang istri. Namun, menurutnya, semua aktivitas di media sosial selalu disembunyikan dengan sangat rapi.

Lambat laun, berbagai informasi mulai ia peroleh. Ia mengetahui bahwa istrinya semakin dekat dengan seorang pria yang dikenal melalui TikTok.

Hubungan mereka diduga tidak lagi sebatas teman sesama pengguna media sosial. Kedekatan itu berkembang menjadi hubungan asmara.

Temuan tersebut sempat memicu pertengkaran besar dalam rumah tangga mereka. Meski begitu, Inyong memilih memaafkan.

"Saya masih ingin mempertahankan rumah tangga," ucapnya.

Beberapa waktu kemudian, seorang teman datang menemuinya dan mengaku pernah melihat Intan berjalan berdua dengan seorang laki-laki ketika dirinya sedang bekerja.

Meski terpukul mendengar cerita tersebut, ia memilih tidak langsung mempercayainya.

"Saya tidak ingin menuduh tanpa bukti. Saya juga tidak ingin rumah tangga hancur hanya karena omongan orang," katanya.

Namun rasa penasaran terus menghantuinya. Hingga suatu hari, ia kembali memeriksa galeri foto di telepon genggam sang istri.

Di sanalah ia menemukan sejumlah foto yang menurutnya menjadi bukti paling nyata. Dalam foto-foto tersebut, istrinya tampak berpose bersama pria lain.

"Saat melihat foto itu rasanya seperti kehilangan tenaga. Semua yang saya curigai akhirnya terbukti," ungkapnya.

Menariknya, setelah mengetahui kenyataan tersebut, Inyong mengaku tidak lagi dipenuhi amarah.

Sebaliknya, ia merasa lelah mempertahankan hubungan yang menurutnya sudah kehilangan kepercayaan.

Baginya, mempertahankan rumah tangga yang telah retak hanya akan memperpanjang penderitaan semua pihak.

"Saya bilang, kalau memang sudah memilih dia, lebih baik menikah saja. Jangan terus hidup dalam dosa," tuturnya.

Keputusan itu akhirnya mengakhiri rumah tangga yang telah mereka bangun selama lebih dari 25 tahun. Keduanya resmi berpisah.

Kini Inyong memilih menjalani hidup dengan lebih tenang. Ia tetap bekerja seperti biasa dan memusatkan perhatian pada anak-anak serta masa depannya.

Meski mengalami pengalaman pahit, ia tidak sepenuhnya menyalahkan media sosial.

Menurutnya, TikTok maupun platform digital lainnya hanyalah sarana. Dampak baik atau buruknya sangat bergantung pada cara setiap orang menggunakannya.

"Saya tidak bilang TikTok itu jelek. Yang salah kalau penggunanya tidak bisa menjaga diri dan menjaga kepercayaan dalam rumah tangga," ujarnya.

Di akhir perbincangan, Inyong berharap kisah yang dialaminya dapat menjadi pelajaran bagi pasangan suami istri lainnya. Ia menilai komunikasi, keterbukaan, dan saling menjaga komitmen jauh lebih penting daripada mencari perhatian atau kedekatan dengan orang lain di dunia maya.

"Rumah tangga itu dibangun bertahun-tahun dengan perjuangan. Jangan sampai semua hancur hanya karena berkenalan dengan seseorang lewat layar ponsel," tutupnya.(red/lis)

Continue reading 25 Tahun Bersama, Berpisah karena Cinta yang Bersemi di TikTok