Ketika Beasiswa Negara Berujung Mimpi Menanggalkan Identitas Bangsa

 

Polemik penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang viral di media sosial akhirnya mereda setelah yang bersangkutan menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada publik. Pernyataan kontroversial yang sempat memicu kemarahan warganet tersebut membuka diskusi luas mengenai tanggung jawab moral penerima beasiswa negara terhadap Indonesia sebagai pemberi amanah pendidikan.

Berdasarkan penelusuran awak media, tercatat puluhan penerima beasiswa LPDP tidak kembali ke Tanah Air setelah menyelesaikan studi di luar negeri. Sebagian di antaranya bahkan telah dijatuhi sanksi tegas berupa penghentian fasilitas hingga daftar hitam akibat pelanggaran komitmen pengabdian. Fakta ini menimbulkan pertanyaan besar tentang efektivitas pengelolaan investasi sumber daya manusia yang dibiayai dari uang rakyat.

Beasiswa luar negeri sejatinya merupakan bentuk kepercayaan negara kepada generasi muda untuk kembali membawa ilmu dan pengalaman demi pembangunan nasional. Ketika kesempatan tersebut justru diiringi keinginan memutus ikatan kewarganegaraan, publik menilai hal itu sebagai bentuk pengkhianatan moral. Dana pendidikan yang digunakan bukan sekadar angka dalam anggaran negara, melainkan berasal dari kontribusi masyarakat luas yang berharap lahirnya generasi penggerak kemajuan bangsa.

Fenomena ini juga kembali mengingatkan pada kritik lama mengenai mentalitas inferior yang masih melekat pada sebagian anak bangsa. Kesuksesan kerap diukur dari kemampuan meninggalkan identitas nasional dan memperoleh status warga negara asing. Padahal pendidikan tinggi seharusnya memperkuat karakter serta rasa tanggung jawab sosial, bukan melahirkan intelektual yang memandang nasionalisme sebagai pilihan sementara.

Di sisi lain, keberadaan diaspora Indonesia di berbagai negara menunjukkan bahwa kontribusi terhadap bangsa tidak selalu harus dilakukan dari dalam negeri. Banyak akademisi dan peneliti Indonesia di luar negeri tetap membawa nama baik bangsa serta berkontribusi melalui ilmu pengetahuan dan jejaring global. Persoalan utama bukanlah lokasi pengabdian, melainkan niat untuk tetap terhubung dan memberi manfaat bagi Indonesia.

Kasus ini menjadi refleksi bersama bahwa kecerdasan akademik tidak selalu berjalan seiring dengan kedewasaan kebangsaan. Negara perlu memastikan sistem seleksi, pembinaan karakter, hingga penempatan pasca-studi berjalan lebih terarah agar para penerima beasiswa dapat berkontribusi sesuai bidang keahliannya. Tanpa ekosistem yang mampu menyerap talenta unggul, potensi frustrasi dan keinginan meninggalkan tanah air akan terus berulang.

Indonesia memang masih menghadapi berbagai keterbatasan, mulai dari fasilitas riset hingga birokrasi yang belum ideal. Namun bagi mereka yang telah memperoleh kesempatan melalui pembiayaan negara, tanggung jawab utama bukan mencari jalan keluar tercepat, melainkan ikut memperbaiki kekurangan yang ada. Pengabdian kepada bangsa bukan sekadar kewajiban administratif, tetapi panggilan moral untuk membangun negeri yang telah memberi kesempatan.

(Red.EI)

Continue reading Ketika Beasiswa Negara Berujung Mimpi Menanggalkan Identitas Bangsa

Penyintas Banjir Aceh Utara Harap Perhatian Pemerintah, Hidup di Huntara Masih Serba Terbatas

 


ACEH UTARA, iniberita.my.id – Ratusan warga korban banjir di Kabupaten Aceh Utara hingga kini masih bertahan di hunian sementara (huntara) dengan berbagai keterbatasan fasilitas. Para penyintas berharap pemerintah pusat segera mempercepat pembangunan rumah permanen agar mereka dapat kembali hidup layak.

Di kawasan Huntara Desa Ulee Rubek Timu, puluhan keluarga masih menjalani aktivitas Ramadan di tengah kondisi serba sederhana. Salah seorang warga, Basri, mengaku kehidupannya berubah drastis sejak banjir besar pada November 2025 menghancurkan permukiman pesisir tempat tinggal mereka.

Meski sejumlah bantuan seperti tikar, kipas angin, dan perlengkapan dapur telah diterima, kebutuhan dasar lainnya disebut belum sepenuhnya terpenuhi. Warga masih kekurangan tempat tidur, lemari, hingga akses air bersih yang memadai. Bantuan bahan pokok pun diakui baru diterima satu kali sejak menempati huntara.

Basri bersama warga lainnya berharap Presiden Prabowo Subianto dapat melihat langsung kondisi mereka yang hingga kini masih berjuang memulihkan kehidupan pascabencana. Harapan terbesar para penyintas adalah percepatan pembangunan hunian tetap agar mereka tidak terus hidup dalam ketidakpastian.

Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto menyatakan pemerintah terus melakukan koordinasi lintas kementerian guna mempercepat proses pemulihan di wilayah terdampak. Pemerintah menargetkan pembangunan huntara rampung sebelum Lebaran, sekaligus mempercepat pembangunan rumah permanen bagi para korban.

Pemerintah berharap proses rehabilitasi dan rekonstruksi dapat segera selesai sehingga masyarakat terdampak banjir di Aceh Utara dapat kembali menjalani kehidupan secara normal dan lebih aman di tempat tinggal yang layak.


Continue reading Penyintas Banjir Aceh Utara Harap Perhatian Pemerintah, Hidup di Huntara Masih Serba Terbatas

Rumah Warga di Plosoklaten Kediri Dijadikan Tempat Tanam Ganja, Dua Pria Diamankan Polisi

 

KEDIRI,  iniberita.my.id – Warga Kecamatan Plosoklaten dibuat geger setelah aparat kepolisian mengungkap praktik penanaman ganja di dalam rumah warga. Dua pria berinisial H (36) dan A (50) diamankan karena diduga menanam tanaman terlarang tersebut menggunakan pot di lingkungan permukiman.

Pengungkapan kasus ini dilakukan oleh Satresnarkoba Polres Kediri setelah polisi melakukan pengembangan dari perkara narkotika yang sebelumnya tengah ditangani. Dari hasil penyelidikan, petugas menemukan aktivitas mencurigakan yang mengarah pada kepemilikan dan budidaya ganja secara ilegal.

Kapolres Kediri Bramastyo Priaji menjelaskan, penangkapan pertama dilakukan pada Kamis (26/2/2026) malam di rumah tersangka H di Desa Petung Ombo. Di lokasi tersebut, polisi menemukan enam pot berisi 11 batang tanaman ganja yang diperkirakan baru berusia sekitar dua pekan.

Dari hasil pemeriksaan lanjutan, polisi kemudian mengembangkan kasus hingga mengarah pada tersangka A yang juga tinggal di wilayah Plosoklaten. Saat dilakukan penggeledahan, petugas menemukan barang bukti lebih banyak, mulai dari puluhan batang ganja dengan berbagai usia tanam, daun ganja kering, hingga biji ganja siap tanam.

Kasat Resnarkoba Polres Kediri Sujarno menyebutkan, sebagian bibit ganja yang ditanam tersangka diduga berasal dari seorang pria berinisial F yang kini masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) dan masih dalam pengejaran aparat kepolisian.

Saat ini kedua tersangka telah ditahan di Mapolres Kediri guna menjalani proses hukum lebih lanjut. Polisi juga masih mendalami kemungkinan adanya jaringan peredaran narkotika lain, termasuk dugaan apakah hasil tanaman tersebut hanya untuk konsumsi pribadi atau diedarkan secara ilegal di wilayah Kediri dan sekitarnya.

Continue reading Rumah Warga di Plosoklaten Kediri Dijadikan Tempat Tanam Ganja, Dua Pria Diamankan Polisi

Ratusan Tukang Becak Nganjuk Terima Bantuan Becak Listrik, Lansia Kini Lebih Ringan Bekerja

 

NGANJUK, iniberita.my.id– Raut bahagia tampak dari para tukang becak di Kabupaten Nganjuk setelah menerima bantuan becak listrik yang digagas Presiden Prabowo Subianto melalui Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional (GSN). Bantuan tersebut disalurkan secara simbolis di Pendopo KRT Sorokoesoemo, Kamis (26/2/2026).

Penyaluran bantuan dipimpin langsung oleh Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi bersama Wakil Bupati Trihandy Cahyo Saputro. Turut hadir Direktur Perencanaan dan Pengembangan Usaha GSN, Firman Dahlan, serta sejumlah unsur pemerintah daerah dan instansi terkait.

Bupati yang akrab disapa Kang Marhaen menyampaikan bahwa bantuan becak listrik merupakan bentuk perhatian nyata pemerintah terhadap masyarakat kecil, khususnya para pekerja sektor informal yang selama ini menggantungkan penghasilan dari mengayuh becak di jalanan.

Menurutnya, program tersebut dirancang tepat sasaran karena diperuntukkan bagi pengemudi becak konvensional berusia lanjut, yakni sekitar 55 hingga 60 tahun ke atas. Sebanyak 220 unit becak listrik diserahkan guna membantu para lansia tetap produktif tanpa harus menguras tenaga fisik secara berlebihan.

Penggunaan tenaga listrik diharapkan mampu meringankan beban kerja para tukang becak sekaligus meningkatkan keselamatan dan kenyamanan saat beraktivitas mencari nafkah setiap hari.

Pemerintah Kabupaten Nganjuk pun berharap program serupa dapat terus berlanjut mengingat tingginya kebutuhan masyarakat serta luasnya wilayah pelayanan transportasi tradisional di daerah tersebut. Bantuan ini dinilai menjadi langkah konkret dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga keberlangsungan profesi tukang becak di tengah perkembangan zaman.

Continue reading Ratusan Tukang Becak Nganjuk Terima Bantuan Becak Listrik, Lansia Kini Lebih Ringan Bekerja