Kemenhub Mulai Studi Perluasan Kereta Cepat hingga Banyuwangi

 

Jakarta – Pemerintah mulai mengkaji kemungkinan perpanjangan jalur kereta cepat Whoosh hingga Banyuwangi setelah Presiden Prabowo Subianto memberikan arahan agar pengembangan proyek tersebut tidak berhenti di Surabaya.

Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Allan Tandiono menyampaikan kepada awak media bahwa kajian tersebut dilakukan sesuai dengan keinginan presiden untuk memperluas jaringan kereta cepat hingga ke wilayah paling timur Pulau Jawa.

Menurutnya, kepala negara menginginkan proyek kereta cepat tidak hanya menghubungkan Jakarta dan Surabaya, tetapi juga memiliki potensi diperpanjang sampai Banyuwangi. Gagasan tersebut sebelumnya juga sempat disampaikan Prabowo dalam sebuah kesempatan pada akhir tahun lalu.

Kala itu, Prabowo menyebut pembangunan kereta cepat diharapkan dapat menjangkau Surabaya dan bila memungkinkan dilanjutkan hingga Banyuwangi sebagai bagian dari penguatan konektivitas transportasi nasional.

Wacana tersebut kembali mengemuka dalam kegiatan buka puasa bersama yang digelar Kementerian Perhubungan dengan awak media di Jakarta beberapa waktu lalu. Dalam kesempatan itu, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengungkapkan pihaknya baru menerima penugasan untuk melakukan kajian awal setelah adanya rapat koordinasi lintas kementerian.

Dudy menjelaskan arahan tersebut muncul saat Kementerian Perhubungan menggelar rapat koordinasi dengan Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan. Ia menilai kajian dilakukan setelah adanya sinyal dukungan dari presiden, mengingat proses studi juga membutuhkan pembiayaan tersendiri.

Menurutnya, kajian awal diperlukan untuk menilai berbagai aspek, mulai dari teknis pembangunan, kebutuhan investasi, hingga dampak ekonomi yang mungkin muncul dari pengembangan jalur kereta cepat tersebut.

Rencana Lama Kembali Mencuat

Rencana pengembangan kereta cepat dari Jakarta menuju Surabaya sebenarnya sudah pernah digagas sejak pemerintahan sebelumnya. Jalur tersebut dirancang melewati sejumlah kota strategis seperti Bandung, Kertajati, Yogyakarta, Solo, hingga Surabaya.

Apabila proyek tersebut terealisasi, waktu tempuh perjalanan Jakarta–Surabaya diperkirakan bisa dipangkas menjadi sekitar 3,5 jam.

Namun, wacana perpanjangan jalur hingga Banyuwangi memunculkan sejumlah sorotan, terutama terkait kondisi keuangan negara yang saat ini menghadapi tekanan fiskal.

Sorotan Soal Kondisi Fiskal

Anggota Komisi VI DPR RI Mufti Anam mempertanyakan urgensi pemerintah kembali menggulirkan proyek besar tersebut di tengah kondisi anggaran negara yang sedang tidak terlalu kuat.

Ia merujuk pada data Kementerian Keuangan yang menunjukkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) per Januari 2026 mengalami defisit sekitar Rp54,6 triliun atau setara 0,21 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Mufti menilai pemerintah perlu lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan terkait proyek infrastruktur berskala besar yang membutuhkan investasi sangat besar.

Menurutnya, pembangunan infrastruktur memang penting, namun tetap harus mempertimbangkan prioritas kebutuhan masyarakat serta kemampuan fiskal negara.

Ia juga menilai sejumlah isu mendesak seperti stabilitas harga pangan, penciptaan lapangan kerja, penguatan UMKM, serta perlindungan sosial bagi kelompok rentan perlu menjadi perhatian utama sebelum pemerintah memutuskan ekspansi proyek besar.

(Red.EI)

Continue reading Kemenhub Mulai Studi Perluasan Kereta Cepat hingga Banyuwangi

Krisis Energi Memanas, Harga Minyak Mentah Tembus US$ 100 per Barel

  

Jakarta – Harga minyak mentah dunia melonjak drastis hingga menembus angka US$ 100 per barel pada perdagangan Senin (9/3/2026). Lonjakan ini terjadi di tengah gangguan pasokan dari Timur Tengah yang membuat jalur pengiriman minyak strategis, Selat Hormuz, tertutup sementara.

Minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) naik 18,98 persen atau US$17,25 menjadi US$108,15 per barel. Sementara itu, minyak Brent sebagai acuan global melonjak 16,19 persen atau US$15,01 ke posisi US$107,70 per barel.

Kenaikan ini memperpanjang tren reli harga minyak yang sudah melonjak sekitar 35 persen dalam sepekan terakhir, rekor kenaikan mingguan terbesar sejak pasar futures dibuka pada 1983. Terakhir kali harga minyak menembus US$100 per barel terjadi saat invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.

Pemangkasan produksi oleh sejumlah negara produsen di Timur Tengah menjadi faktor utama lonjakan harga. Penutupan Selat Hormuz, jalur ekspor penting energi dunia, membuat banyak kapal tanker enggan melintas karena risiko keamanan.

Kuwait, produsen minyak terbesar kelima di OPEC, mengumumkan pengurangan produksi dan output kilang sebagai antisipasi ancaman keamanan kapal. Di Irak, produksi tiga ladang minyak utama anjlok sekitar 70 persen menjadi 1,3 juta barel per hari, jauh dari kapasitas normal 4,3 juta barel.

Uni Emirat Arab (UEA) juga membatasi produksi minyak lepas pantai untuk menyesuaikan kapasitas penyimpanan, sementara operasi produksi darat tetap berjalan normal.

Pemerintah AS optimistis jalur Selat Hormuz akan kembali dibuka dalam waktu dekat. Menteri Energi AS, Chris Wright, menyampaikan kepada awak media bahwa arus kapal diperkirakan akan normal kembali dalam beberapa minggu setelah kemampuan Iran untuk mengancam kapal berkurang.

“Arus kapal akan kembali normal dalam beberapa minggu, meski saat ini masih jauh dari kondisi normal,” kata Wright.

Dengan kondisi ini, pasar energi global berada di titik ketidakpastian tinggi, memengaruhi berbagai sektor ekonomi dunia.

(Red.EI)

Continue reading Krisis Energi Memanas, Harga Minyak Mentah Tembus US$ 100 per Barel

Kajian Fikih di Masjid As Syifa Turus Diminati Warga Sekitar

  

Kediri - Kegiatan kajian kitab yang rutin digelar di Masjid As Syifa, Desa Turus, Kecamatan Gurah, tidak hanya menjadi sarana memperdalam ilmu agama bagi masyarakat. Lebih dari itu, kegiatan tersebut juga dimanfaatkan sebagai ruang berbagi kepada warga sekitar, khususnya bagi mereka yang membutuhkan.

Setiap Jumat Legi selepas salat Subuh, suasana masjid yang berada di wilayah Desa Turus itu tampak lebih ramai dari biasanya. Banyak jemaah yang memilih tetap berada di dalam masjid setelah menunaikan salat berjemaah untuk mengikuti kajian kitab yang menjadi agenda rutin di tempat tersebut.

Pengajian biasanya dimulai sekitar pukul 05.00 atau tidak lama setelah salat Subuh selesai dilaksanakan. Selama kurang lebih setengah jam, para jemaah mengikuti kajian fikih yang membahas berbagai amalan ibadah sehari-hari.

Ketua Takmir Masjid As Syifa Turus, Moh. Nur Hudi, menjelaskan kepada awak media bahwa kitab yang dikaji dalam kegiatan tersebut adalah Fathul Qarib. Materi yang disampaikan berfokus pada pembahasan fikih dasar seperti tata cara wudu, salat, hingga hal-hal yang dapat membatalkan ibadah.

Menurutnya, kajian tersebut diisi secara bergantian oleh Rais Syuriah NU Turus, Kiai Muhammad Asnawi, serta Ketua LDNU Turus, Kiai Ahmad Busairi. Setelah penyampaian materi selesai, kegiatan biasanya dilanjutkan dengan sesi tanya jawab bersama jemaah.

Nur Hudi menyampaikan bahwa peserta kajian tidak hanya berasal dari warga sekitar masjid. Beberapa jemaah juga datang dari desa tetangga bahkan ada pula musafir yang singgah untuk mengikuti pengajian setelah salat Subuh.

Meski lokasi masjid berada agak jauh dari kawasan permukiman padat, jumlah peserta yang hadir terbilang cukup banyak. Dalam setiap pertemuan, jumlah jemaah biasanya berkisar antara 60 hingga 100 orang dengan latar belakang usia yang beragam, mulai dari kalangan orang tua hingga anak muda.

Setelah kajian selesai, para jemaah biasanya tidak langsung meninggalkan masjid. Pengurus masjid telah menyiapkan sarapan bersama yang bisa dinikmati oleh seluruh peserta kajian.

Tidak jarang pula para jemaah mendapatkan bingkisan berupa bahan makanan untuk dibawa pulang. Menurut Nur Hudi, kegiatan tersebut memang dirancang tidak hanya sebagai pengajian semata, tetapi juga sebagai bentuk kepedulian sosial kepada masyarakat.

Ia menjelaskan kepada awak media bahwa kegiatan ini bertujuan mengajak masyarakat untuk meramaikan salat Subuh berjemaah sekaligus memperkuat semangat berbagi di tengah lingkungan sekitar.

Selain itu, karena lokasi masjid berada cukup jauh dari kawasan permukiman, kegiatan ini juga ditujukan untuk mengajak masyarakat yang selama ini jarang datang ke masjid agar lebih dekat dengan kegiatan keagamaan.

Oleh karena itu, materi yang dipilih dalam kajian tersebut lebih banyak membahas fikih dasar agar mudah dipahami oleh masyarakat umum.

Tradisi kajian tersebut juga tetap dilaksanakan selama bulan Ramadan. Bedanya, kegiatan dilakukan menjelang waktu berbuka puasa.

Para jemaah terlebih dahulu mengikuti pengajian kitab sebelum melaksanakan buka puasa bersama di masjid. Tahun ini, kitab yang dipelajari dalam kajian Ramadan adalah Taisirul Kholaq.

Nur Hudi menjelaskan bahwa kegiatan kajian menjelang berbuka puasa tersebut telah berlangsung selama dua tahun terakhir.

Selain pengajian, pengurus masjid juga mengundang sejumlah warga, khususnya dari kalangan kurang mampu, untuk hadir dalam kegiatan tersebut. Undangan biasanya dikoordinasikan melalui ketua RT setempat dan dilakukan secara bergiliran agar merata di setiap lingkungan.

Warga yang diundang tidak hanya mengikuti kajian dan berbuka bersama, tetapi juga menerima bingkisan sembako dari pengurus masjid.

Meski demikian, kegiatan tersebut tetap terbuka bagi siapa saja yang ingin datang mengikuti pengajian maupun berbuka bersama.

Menurut Nur Hudi, rata-rata sekitar 40 hingga 45 orang mengikuti kajian menjelang berbuka selama bulan Ramadan. Jumlah tersebut terdiri dari warga undangan serta masyarakat umum yang datang secara sukarela.

Bagi pengurus masjid, kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi rutinitas keagamaan. Mereka berharap kajian kitab yang digelar dapat menjadi sarana mempererat hubungan sosial sekaligus mendorong masyarakat untuk lebih dekat dengan masjid.

(Red.EI)

Continue reading Kajian Fikih di Masjid As Syifa Turus Diminati Warga Sekitar

Komunitas Suketeki Kediri Perkuat Kepedulian Sosial Lewat Aksi Takjil

 

Kediri - Sebagai bentuk kepedulian di bulan suci Ramadan, Komunitas Relawan Suketeki Kediri mengadakan kegiatan berbagi takjil bagi masyarakat. Dalam aksi sosial yang digelar pada Minggu (8/3/2026) tersebut, para relawan membagikan total 1.500 paket takjil kepada pengendara dan warga yang melintas di sejumlah ruas jalan di Kota Kediri.

Kegiatan ini dilaksanakan secara bersamaan di tiga wilayah kecamatan dengan melibatkan ratusan anggota komunitas. Para relawan turun langsung ke lapangan untuk menyalurkan takjil kepada masyarakat yang masih berada di perjalanan menjelang waktu berbuka puasa.

Koordinator Wilayah Suketeki Kediri, Wawan Yudianto, menjelaskan kepada awak media bahwa setiap titik lokasi diisi oleh sekitar 100 relawan yang bertugas membagikan paket takjil kepada masyarakat yang melintas.

Ia menyampaikan bahwa di masing-masing kecamatan disediakan sekitar 500 paket takjil sehingga total yang dibagikan pada kegiatan tersebut mencapai 1.500 paket.

Menurutnya, kegiatan berbagi takjil ini bukanlah yang pertama kali dilakukan oleh komunitas Suketeki. Sejak berdiri pada tahun 2020, komunitas tersebut secara rutin melaksanakan berbagai kegiatan sosial, termasuk pembagian takjil yang telah menjadi agenda tahunan setiap Ramadan.

Wawan juga menegaskan bahwa seluruh pembiayaan kegiatan berasal dari donasi sukarela para anggota komunitas tanpa adanya sponsor dari pihak luar. Para relawan secara mandiri menyisihkan sebagian rezekinya sesuai kemampuan untuk mendukung kegiatan sosial tersebut.

Ia berharap kegiatan ini tidak hanya sekadar membagikan makanan untuk berbuka puasa, tetapi juga mampu mempererat hubungan antara komunitas relawan dengan masyarakat di Kota Kediri.

Selain itu, kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat kedekatan sosial antara relawan dan warga sehingga kehadiran komunitas Suketeki dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat secara lebih luas.

Selama kegiatan berlangsung, antusiasme masyarakat terlihat cukup tinggi. Banyak pengguna jalan yang menyambut positif pembagian takjil tersebut, terutama bagi mereka yang masih berada di perjalanan menjelang waktu berbuka puasa.

Aksi sosial ini menjadi salah satu bentuk semangat berbagi yang terus dijaga oleh komunitas relawan di Kediri selama bulan Ramadan.

(Red.EI)

Continue reading Komunitas Suketeki Kediri Perkuat Kepedulian Sosial Lewat Aksi Takjil