KEDIRI, – Puluhan gerai Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Kabupaten Kediri mulai beroperasi. Sejumlah pengelola mengklaim omzet penjualan bahkan sempat menembus jutaan rupiah dalam sehari. Namun, kondisi di lapangan menunjukkan aktivitas transaksi di sejumlah gerai masih relatif sepi.
Salah satu gerai yang telah beroperasi berada di Desa Turus, Kecamatan Gurah. Berlokasi di Jalan Ahmad Yani, sekitar empat kilometer dari Simpang Lima Gumul (SLG), bangunan gerai tampil seragam dengan identitas merah putih yang menjadi ciri khas program nasional tersebut.
Memasuki area toko, suasana menyerupai minimarket modern. Rak-rak display telah terpasang rapi dengan berbagai kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, mi instan, makanan ringan, hingga air minum dalam kemasan.
Meski demikian, stok barang yang tersedia masih terbatas. Banyak rak yang belum terisi penuh sehingga pilihan produk bagi konsumen belum terlalu beragam.
Penjaga gerai KDMP Turus, Zahwa, mengatakan masyarakat mulai memberikan respons positif terhadap kehadiran koperasi tersebut. Produk yang paling banyak dicari sejauh ini adalah beras SPHP, minyak goreng, dan mi instan.
"Antusias masyarakat cukup baik. Yang paling sering dicari beras SPHP, kemudian minyak goreng dan mi instan," ujarnya.
Menurut Zahwa, beberapa hari lalu gerainya sempat membukukan omzet sekitar Rp1,8 juta dalam sehari, didorong oleh pembelian beras dan minyak goreng dalam jumlah besar.
Namun, capaian tersebut diakui bukan terjadi setiap hari.
Berdasarkan pantauan JP Radar Kediri, kondisi gerai belum menunjukkan aktivitas penjualan yang padat. Selama lebih dari 15 menit berada di lokasi, hanya terjadi satu transaksi dengan nilai pembelian relatif kecil berupa beberapa bungkus mi instan dan minuman kemasan.
Jam operasional yang masih terbatas juga menjadi tantangan tersendiri. Gerai hanya melayani pembeli mulai pukul 08.00 hingga 17.00 WIB, berbeda dengan minimarket modern yang umumnya buka hingga malam bahkan 24 jam.
Kondisi serupa juga ditemukan di gerai KDMP lain di Kecamatan Gurah. Seorang karyawan yang enggan disebutkan namanya mengaku omzet harian umumnya belum mencapai Rp500 ribu.
Menurutnya, penjualan baru bisa menembus kisaran Rp700 ribu hingga Rp1 juta apabila terdapat pembelian dalam jumlah besar, terutama untuk komoditas beras dan minyak goreng.
"Kalau ada yang memborong beras atau minyak memang bisa sampai sekitar Rp700 ribu sampai Rp1 juta. Tapi kalau transaksi harian biasa, belum sampai sebesar itu karena barang yang tersedia juga masih terbatas," katanya.
Selain jumlah produk yang masih sedikit, pengelola desa juga belum memiliki keleluasaan dalam mengatur operasional gerai. Kepala Desa Bogem, Moh. Samsodin, menjelaskan seluruh pasokan barang berasal dari PT Agrinas Pangan Persero.
Tidak hanya penyediaan stok, perusahaan tersebut juga menentukan harga jual, jenis produk yang dipasarkan, hingga program promosi yang dijalankan di setiap gerai KDMP.
"Semua produk berasal dari Agrinas. Kami tidak bisa membeli barang secara mandiri karena seluruh pengelolaan operasional masih didampingi Agrinas," jelas Samsodin.
Ia menambahkan, masa pendampingan tersebut direncanakan berlangsung selama dua tahun. Selama periode itu, operasional toko, pelaporan omzet, hingga penggajian karyawan sepenuhnya berada di bawah koordinasi PT Agrinas Pangan Persero.
Pemerintah desa saat ini lebih berperan sebagai pengawas operasional, sementara mekanisme pembagian keuntungan bagi desa masih belum ditetapkan.
"Omzet seluruhnya masih dilaporkan ke Agrinas. Pegawai juga digaji oleh Agrinas, sehingga desa saat ini lebih pada fungsi pengawasan," ujarnya.
Samsodin mengakui penjualan di gerai KDMP Bogem belakangan mengalami penurunan. Meski tidak menyebutkan angka pastinya, ia menilai kondisi tersebut dipengaruhi siklus belanja masyarakat selama bulan Sura yang cenderung lebih rendah.
Ia optimistis penjualan akan kembali meningkat memasuki bulan Sapar ketika aktivitas masyarakat, termasuk penyelenggaraan hajatan, mulai bertambah.
Pantauan di gerai KDMP Bogem juga menunjukkan kondisi yang tidak jauh berbeda. Selama sekitar 30 menit, hanya tercatat dua transaksi. Sejumlah rak masih kosong, sementara beberapa produk ditata memenuhi satu rak bertingkat karena keterbatasan variasi barang yang tersedia.
Kondisi tersebut menunjukkan KDMP masih berada pada tahap awal pengembangan. Meski mulai mendapat respons dari masyarakat, tantangan berupa keterbatasan stok, variasi produk, hingga peningkatan volume transaksi masih menjadi pekerjaan rumah agar koperasi desa ini benar-benar mampu menjadi pusat distribusi kebutuhan pokok sekaligus menggerakkan ekonomi desa.(red/lis)
0 Comments:
Post a Comment