KEDIRI – Dampak insiden dugaan keracunan makanan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terjadi pekan lalu masih dirasakan sejumlah sekolah di Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri. Selain menghentikan sementara distribusi makanan, pihak sekolah kini lebih mengutamakan pemulihan kondisi psikologis para siswa yang masih diliputi rasa takut untuk kembali mengonsumsi paket MBG.
Salah satu sekolah yang belum kembali menerima distribusi makanan bergizi adalah SMP Negeri 1 Kras. Hingga saat ini, pihak sekolah belum mengajukan kembali penyaluran MBG meski memiliki kesempatan untuk berpindah ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) lain.
Kepala SMPN 1 Kras, Soedjito, mengatakan sejak Selasa (28/7) sekolahnya sudah tidak lagi menerima paket MBG. Hal itu menyusul penghentian sementara operasional SPPG Purwodadi yang sebelumnya menjadi penyedia makanan bagi sekolah tersebut.
"SPPG Purwodadi saat ini masih di-suspend sehingga untuk sementara tidak lagi menyalurkan paket MBG," ujarnya.
Menurut Soedjito, pascainsiden yang menyebabkan 117 siswanya mengalami keluhan kesehatan, pihak sekolah terus melakukan pemantauan terhadap kondisi peserta didik. Pemantauan tidak hanya dilakukan dari sisi kesehatan fisik, tetapi juga kondisi mental mereka.
Guru-guru diminta aktif memonitor perkembangan siswa, terutama mereka yang sebelumnya mengalami gejala seperti mual, muntah, diare, hingga pusing setelah mengonsumsi makanan program MBG.
"Saya juga berkeliling ke setiap kelas untuk menanyakan langsung kondisi mereka. Sebagian besar mengatakan masih trauma. Walaupun penyebab pastinya masih dalam proses penyelidikan, rasa takut anak-anak masih sangat terasa," jelasnya.
Trauma tersebut terlihat ketika sekitar 900 siswa SMPN 1 Kras kembali menerima paket MBG pada Senin (27/7). Banyak siswa memilih tidak mengambil makanan yang telah disediakan. Bahkan sebagian yang sudah mengambil paket makanan juga tidak menghabiskannya karena khawatir kejadian serupa kembali terulang.
"Ketika pembagian MBG hari Senin, banyak ketua kelas yang ragu-ragu mengambil makanan. Anak-anak masih takut untuk mengonsumsinya," tambah Soedjito.
Karena itu, pihak sekolah belum terburu-buru mengajukan perpindahan penyedia layanan MBG. Keputusan tersebut baru akan dibahas bersama koordinator wilayah setelah kondisi psikologis siswa dinilai benar-benar pulih.
"Kami masih menunggu koordinasi dengan koordinator wilayah. Yang terpenting sekarang trauma anak-anak berkurang terlebih dahulu," katanya.
Dampak penghentian distribusi MBG juga dirasakan sekolah lain. SD Negeri Purwodadi 1, yang enam siswanya turut mengalami dugaan keracunan, hingga kini juga belum kembali menerima paket makanan bergizi.
Kepala SDN Purwodadi 1, Sutinah, mengatakan pihak sekolah telah berkoordinasi dengan para orang tua siswa. Dari hasil pembahasan tersebut, mayoritas wali murid menginginkan penyaluran MBG nantinya dialihkan ke SPPG Nyawangan 2.
"Kami masih belum menerima distribusi MBG. Dari hasil koordinasi bersama wali murid, mereka berharap nantinya penyaluran dilakukan melalui SPPG Nyawangan 2," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kediri, Achmad Faiz, menyampaikan bahwa sejumlah madrasah yang siswanya terdampak juga belum kembali memperoleh layanan MBG. Di antaranya MI Barokah At Tahdzib dan MI Darul Huda.
Menurut Faiz, kelanjutan program di madrasah tersebut masih menunggu hasil koordinasi dengan koordinator wilayah yang menangani pelaksanaan MBG.
"Untuk sementara masih menunggu hasil koordinasi dengan koordinator wilayah," katanya.
Berdasarkan pendataan Satgas MBG Kabupaten Kediri, total sedikitnya 211 siswa dari berbagai jenjang pendidikan mengalami dugaan keracunan makanan pada Kamis (23/7) dan Jumat (24/7). Seluruh siswa tersebut berasal dari sekolah-sekolah yang menerima distribusi makanan dari SPPG Purwodadi.
Mayoritas korban mengalami gejala mual, muntah, diare, serta pusing. Bahkan sebagian siswa masih merasakan keluhan hingga beberapa hari setelah kejadian.
Selama proses penyelidikan berlangsung, operasional SPPG Purwodadi resmi dihentikan sementara atau di-suspend sebagai langkah antisipasi hingga penyebab pasti insiden tersebut diketahui.
Di sisi lain, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri, Mokhamat Muhsin, memastikan kondisi para siswa secara umum sudah membaik dan sebagian besar telah kembali mengikuti kegiatan belajar di sekolah.
Ia menyebut hanya satu siswa yang masih menjalani perawatan di rumah sakit, namun kondisinya terus menunjukkan perkembangan positif.
"Mayoritas siswa sudah kembali masuk sekolah. Tinggal satu siswa yang masih dirawat di RS PKU Muhammadiyah dan berdasarkan informasi kondisinya sudah membaik serta diperkirakan segera diperbolehkan pulang," pungkasnya.(red/lis)
0 Comments:
Post a Comment