KEDIRI – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau nelayan, operator kapal, serta masyarakat yang beraktivitas di wilayah perairan selatan Jawa Timur agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gelombang tinggi. Kondisi tersebut diperkirakan masih berlangsung selama lima hari ke depan, mulai 26 hingga 30 Juli.
Berdasarkan prakiraan BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Perak Surabaya, tinggi gelombang di perairan selatan Jawa Timur berpotensi mencapai 2,04 meter hingga 2,65 meter. Ketinggian tersebut masuk kategori gelombang sedang hingga tinggi yang dapat membahayakan aktivitas pelayaran, terutama bagi perahu nelayan dan kapal berukuran kecil.
Wilayah yang diprakirakan mengalami gelombang paling tinggi meliputi Perairan Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember, hingga Banyuwangi.
BMKG memprakirakan puncak gelombang tertinggi terjadi di Perairan Pacitan pada 27 Juli dengan ketinggian antara 2,34 hingga 2,65 meter. Sementara di Perairan Trenggalek gelombang diperkirakan mencapai 2,30 hingga 2,64 meter, Tulungagung 2,31 hingga 2,63 meter, Blitar 2,30 hingga 2,60 meter, dan Malang hingga sekitar 2,54 meter. Potensi gelombang dengan karakteristik serupa juga diprediksi terjadi di wilayah perairan Lumajang, Jember, dan Banyuwangi.
Selain wilayah selatan, BMKG juga memprakirakan gelombang kategori sedang berpotensi terjadi di sejumlah perairan utara Jawa Timur. Di antaranya Perairan Masalembo, Perairan Bawean bagian utara dan selatan, Kepulauan Kangean, serta Selat Bali bagian utara dengan tinggi gelombang berkisar antara 1,2 hingga 1,6 meter.
BMKG menjelaskan, potensi gelombang tinggi dipengaruhi pola angin yang berkembang di wilayah perairan Jawa Timur. Selain itu, pertumbuhan awan cumulonimbus (Cb) yang luas dan tebal juga dapat memicu peningkatan kecepatan angin secara tiba-tiba sehingga menyebabkan tinggi gelombang meningkat dalam waktu singkat.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko keselamatan pelayaran. BMKG menyebut perahu nelayan mulai berisiko apabila kecepatan angin mencapai 15 knot dengan tinggi gelombang sekitar 1,25 meter. Sementara kapal tongkang berpotensi mengalami gangguan keselamatan ketika kecepatan angin mencapai 16 knot dengan tinggi gelombang sekitar 1,5 meter.
Atas kondisi tersebut, BMKG mengimbau nelayan, operator kapal, dan masyarakat yang memiliki aktivitas di laut untuk selalu memantau perkembangan prakiraan cuaca maritim sebelum berlayar. Masyarakat juga disarankan menunda aktivitas melaut apabila cuaca memburuk, terutama di kawasan perairan selatan Jawa Timur yang diperkirakan masih menjadi wilayah dengan potensi gelombang tertinggi hingga akhir Juli.(red/lis)
0 Comments:
Post a Comment