Ngaji Reco: Menggali Makna Arca dan Relief Sebagai Jejak Budaya Kediri

  


KEDIRI,   iniberita.my.id — Gedung Kesenian dan Museum Kabupaten Kediri di kawasan Menang, Jalan Totok Kerot, menjadi ruang pertemuan lintas generasi dalam acara bertajuk Ngaji Reco, Jumat (20/6/2025). Kegiatan ini mengangkat tema “Kajian Arca dan Relief Koleksi Museum” dan menjadi magnet bagi pecinta sejarah, pegiat seni budaya, serta akademisi dari berbagai daerah, termasuk Tulungagung dan Nganjuk.

Dibuka oleh Wawan dari Kesbangpol Bidang Kebudayaan, acara menghadirkan dua narasumber utama: Nugroho dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI dan Kris Barok, anggota Presidium Dewan Kesenian Jawa Timur. Sementara pelaksana kegiatan adalah Eko Priyatno, Kepala Bidang Sejarah dan Purbakala Kabupaten Kediri.

Dalam pemaparannya, Nugroho menekankan pentingnya membedakan antara arca dan patung—dua istilah yang kerap disamakan. Ia menjelaskan bahwa arca mengandung nilai sakral dan biasanya merepresentasikan tokoh spiritual atau kepercayaan, berbeda dari patung yang bersifat dekoratif.

“Arca bukan sekadar benda seni. Ia menyimpan dimensi religius, spiritual, dan historis yang sangat dalam,” ujar Nugroho.

Salah satu arca yang menjadi bahan kajian dalam acara tersebut merupakan koleksi museum yang belum sepenuhnya berhasil diidentifikasi. Arca itu menggambarkan sosok dewa dari era Hindu-Buddha, namun dalam kondisi rusak, tanpa kepala, dan memiliki proporsi tubuh yang tidak simetris.

“Kemungkinan ini dari masa akhir Majapahit. Ada elemen simbolik seperti ayam kecil yang dibawanya, tapi tanpa mahkota, jadi statusnya sebagai bangsawan atau dewa utama masih dipertanyakan,” terangnya.

Diskusi kemudian berkembang ke soal narasi budaya yang tertuang dalam relief, salah satu medium visual penting yang digunakan masyarakat masa lampau untuk merekam kisah, kepercayaan, dan tokoh-tokoh seperti Panji.

Relief, menurut Nugroho, tidak seperti buku yang dapat dibaca runut dari awal hingga akhir. Banyak relief justru dibuat dalam potongan-potongan cerita yang kadang terpisah dan memerlukan penafsiran mendalam.

“Kisah Panji misalnya, sering digambarkan secara emosional dan simbolik. Ada adegan dia bersedih ditinggal kekasih atau saat bertapa. Tapi karena reliefnya sering terfragmentasi, kita hanya bisa menebak maknanya dari sisa-sisa visual,” tambahnya.

Salah satu peserta acara, Heru, mengaku terkesan dengan kedalaman makna yang terkandung dalam arca dan relief. “Saya pikir arca itu hanya benda kuno. Tapi ternyata, ada banyak cerita dan filosofi di baliknya. Ini pengalaman baru buat saya,” ujarnya.

Kegiatan ini sekaligus membuka mata publik akan pentingnya pelestarian cagar budaya. Banyak arca yang kini hilang, rusak, atau bahkan digunakan secara keliru sebagai material bangunan.

Selain diskusi filosofis, Nugroho juga mendorong pentingnya penelitian lanjutan menggunakan pendekatan ilmiah, seperti uji laboratorium terhadap mineral batu, untuk mengetahui asal-usul arca yang belum teridentifikasi.

“Informasi seperti lokasi penemuan dan jenis batu sangat berpengaruh untuk mengetahui usia dan makna dari arca tersebut. Ini kunci dalam merangkai kembali narasi sejarah,” ungkapnya.

Melalui Ngaji Reco, publik diajak untuk tidak hanya melihat artefak kuno sebagai benda mati, tetapi sebagai representasi nilai spiritual, simbolik, dan estetika yang terus relevan di masa kini.

Menurut penyelenggara, kegiatan seperti ini akan terus digelar untuk menguatkan kesadaran publik tentang warisan budaya Kediri. Karena pelestarian tidak hanya soal menjaga benda fisik, tapi juga mempertahankan ingatan dan kesadaran kultural di tengah perubahan zaman.(RED.AL)

0 Comments:

Post a Comment