Jemaah Kediri-Nganjuk Hadapi Cuaca Ekstrem di Madinah, Petugas Kesehatan Kewalahan Tangani Keluhan


MADINAH,  iniberita.my.id– Suasana Madinah terasa semakin menantang bagi para jemaah haji asal Kabupaten Kediri dan Nganjuk yang tergabung dalam kloter 45 dan 46. Memasuki hari keenam keberadaan mereka di kota suci, Senin 20 Mei, suhu udara menyentuh 44 derajat Celsius dengan kelembapan udara yang sangat rendah, hanya sekitar lima persen.

Kondisi ini membuat udara menjadi sangat kering dan panas menyengat di kulit. Petugas haji mengimbau agar para jemaah senantiasa menggunakan payung atau penutup kepala saat keluar dari pemondokan, terutama ketika hendak menunaikan salat di Masjid Nabawi.

Dampak dari cuaca ekstrem ini mulai terasa terhadap kondisi kesehatan para jemaah. Di grup komunikasi internal kloter, sejumlah jemaah mengeluhkan gangguan kesehatan seperti flu, batuk, hingga sakit gigi dan nyeri sendi. “Saya minta obat sakit gigi dan asam urat,” ujar Abdurrahman, jemaah asal Kediri dalam salah satu pesan singkat.

Tenaga kesehatan yang mendampingi jemaah pun harus bekerja lebih keras. Tahun ini, setiap kloter hanya didampingi satu dokter dan satu perawat, berbeda dengan tahun sebelumnya yang disertai dua perawat. Dengan keterbatasan tersebut, layanan kesehatan harus dilakukan secara cepat dan efisien, mengingat banyaknya permintaan dari jemaah.

Meski harus menghadapi suhu tinggi, para jemaah tetap semangat menjalani ibadah arbain, yakni salat berjamaah selama 40 waktu berturut-turut di Masjid Nabawi. Di sela-sela waktu salat, banyak dari mereka memanfaatkan waktu untuk berziarah atau mengunjungi tempat-tempat bersejarah di sekitar masjid.

Salah satu destinasi yang diminati adalah Perpustakaan Masjid Nabawi yang berada di rooftop masjid. Perpustakaan ini khusus dibuka untuk pengunjung laki-laki dan menyimpan lebih dari 180 ribu koleksi literatur Islam. Koleksi yang tersedia dikelola dengan sistem modern, mulai dari manuskrip kuno hingga musaf digital. Sebanyak 4.052 manuskrip fisik, 4.600 musaf bergambar, serta lebih dari 260.000 naskah digital tersedia di sana. Meski tersedia komputer dan buku dalam berbagai bahasa, sejauh ini belum ditemukan fasilitas dengan bahasa Indonesia.

Di tengah aktivitas ibadah dan kunjungan religi, jemaah juga mulai menerima pembagian Kartu Nusuk. Kartu ini berfungsi sebagai identitas akses jemaah untuk memasuki Makkah dan wilayah Masjidil Haram. Pembagian kartu dilakukan langsung oleh petugas syarikah, dan jemaah wajib mengambil sendiri kartu tersebut.

Namun proses pembagian kartu menimbulkan sejumlah keluhan. Petugas syarikah kerap datang tiba-tiba dan meminta jemaah segera mengambil kartu, tak peduli waktu dan kondisi. “Bagaimana ini, saya sedang salat di masjid tapi dipanggil untuk ambil Kartu Nusuk,” keluh Siti Maryam, jemaah asal Desa Puhsarang, Kecamatan Semen.

Sejumlah jemaah, khususnya yang berusia lanjut atau tidak memiliki ponsel, merasa kesulitan mengikuti alur informasi pembagian kartu. Ketidaksesuaian waktu dan minimnya komunikasi digital membuat beberapa jemaah merasa cemas dan khawatir tertinggal.

Meski penuh tantangan, semangat para jemaah dari Kediri dan Nganjuk tetap tinggi dalam menjalankan ibadah. Petugas kloter juga terus memberikan pendampingan dan motivasi agar seluruh jemaah bisa menjalani ibadah haji dengan aman dan lancar.(red.a)

0 Comments:

Post a Comment