Jemaah Haji Kediri Andalkan Akal dan Keberanian untuk Bisa Masuk Raudah di Masjid Nabawi

 


MADINAH iniberita.my.id Kisah unik datang dari para jemaah haji asal Kediri yang dikenal tak kehabisan cara demi bisa memasuki Raudhah, area suci di Masjid Nabawi yang diyakini sebagai salah satu taman surga. Di tengah ketatnya regulasi dan panjangnya antrean izin masuk, sejumlah jemaah dari Kediri justru memilih jalur “alternatif” yang penuh strategi dan keberanian.

Salah satunya adalah Irul, jemaah asal Desa Blabak, Kecamatan Kandat. Pria berusia 50-an ini mengaku berhasil masuk ke Raudhah tanpa surat izin resmi dari aplikasi Nusuk. Ia memanfaatkan kemudahan yang biasanya diberikan kepada jemaah lansia atau pengguna kursi roda.

“Saya pakai strategi ikut lansia yang naik kursi roda. Bukan cuma saya, yang masuk ada empat orang bareng. Alhamdulillah askarnya ngizinkan,” cerita Irul sembari tersenyum.

Irul bukan sembarang jemaah. Pengalamannya bekerja selama lima tahun di Arab Saudi membuatnya fasih berbahasa Arab, sehingga mampu berdialog dengan petugas (askar) penjaga akses Raudhah.

“Saya ajak ngobrol, saya puji, saya bilang datang dari jauh dan ingin sekali masuk. Mungkin karena komunikasi lancar dan pendekatan sopan, akhirnya dikasih masuk,” tambahnya.

Sejak penerapan sistem digital pasca-pandemi, akses ke Raudhah tidak bisa sembarangan. Jemaah wajib mengantongi tasreh (izin) dari aplikasi resmi. Namun, dengan antrean yang bisa mencapai enam hari dan waktu kunjungan terbatas, banyak jemaah memilih "jalan pintas" agar tidak kehilangan kesempatan spiritual langka itu.

Abdul Wahab, atau akrab disapa Gus Dul, mengaku menggunakan barcode izin dari jemaah lain yang sudah kadaluarsa. Beruntung, barcode miliknya tidak discan oleh petugas.

“Kalau barcode-nya beneran discan mungkin saya nggak akan bisa masuk. Tapi waktu itu askarnya cuma lihat, tidak pakai alat. Jadi saya lolos,” ujarnya.

Sementara itu, Alfin, jemaah asal Desa Petok, Mojo, menggunakan teknik berbeda: menyusup di antara rombongan jemaah lain yang telah mengantongi izin resmi secara berkelompok.

“Cara ini memang ada resikonya. Kalau ketahuan, ya pasti disuruh keluar. Tapi ya... dicoba saja, siapa tahu berhasil,” katanya tertawa.

Masuk ke Raudhah bagi banyak jemaah bukan hanya soal tempat, tapi soal momen spiritual yang penuh haru. Dari pintu Assalam, jemaah pria bisa melintasi area imam, mimbar Nabi Muhammad SAW, dan makam beliau yang juga menjadi tempat peristirahatan terakhir sahabat Abu Bakar dan Umar bin Khattab.

Bahkan bagi jemaah yang hanya bisa "melintas" di Raudhah tanpa sempat duduk dan berdoa, perasaan itu sudah sangat istimewa.

“Saat lewat, kami ucapkan salam dalam hati. Rasa haru tak terbendung. Inilah puncak perjalanan spiritual yang saya nanti-nantikan,” ujar seorang jemaah dengan mata berkaca-kaca.

Meski banyak kisah sukses dari strategi 'nekat' para jemaah, pihak keamanan Masjid Nabawi terus mengingatkan pentingnya mengikuti prosedur resmi. Hal ini demi menjaga keamanan, kenyamanan, dan keadilan bagi seluruh jemaah dari seluruh dunia.

Namun begitu, cerita dari para jemaah Kediri ini menunjukkan semangat dan kreativitas yang tinggi dalam menembus keterbatasan, selama tetap menjaga adab dan rasa hormat di tanah suci.(red.a)

0 Comments:

Post a Comment