KEDIRI – Musim kemarau di wilayah Kediri Raya diperkirakan berlangsung lebih lama dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi hujan baru akan mulai turun pada November 2026, sehingga masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan dan kebakaran lahan.
Jika pada tahun-tahun normal hujan mulai datang sekitar September, tahun ini kondisi berbeda akibat pengaruh fenomena El Nino yang menyebabkan musim kemarau berlangsung lebih panjang.
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas III Dhoho Kediri melalui Ketua Tim Kerja Meteorologi Publik, Satria Krida Nugraha, menjelaskan berdasarkan prakiraan curah hujan bulanan, wilayah Kediri masih akan didominasi cuaca kering sepanjang Agustus hingga Oktober.
"Curah hujan selama Agustus, September, dan Oktober diperkirakan masih berada pada kategori rendah, yakni sekitar 0 hingga 20 milimeter per bulan. Memasuki November hujan mulai turun, namun belum merata dengan kisaran 50 sampai 100 milimeter per bulan," jelasnya.
Menurut Satria, mundurnya awal musim hujan dipengaruhi oleh fenomena El Nino yang menyebabkan curah hujan berkurang di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Jawa Timur.
Mengantisipasi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Kediri mulai memperkuat langkah-langkah mitigasi agar dampak musim kemarau dapat ditekan sejak dini.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri, Stefanus Djoko Sukrisno, mengatakan pemerintah telah menerbitkan Surat Edaran (SE) tentang kewaspadaan menghadapi dampak musim kemarau.
Surat edaran tersebut merupakan tindak lanjut hasil rapat koordinasi penanganan bencana hidrometeorologi bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
"Seluruh perangkat daerah, kecamatan, hingga pemerintah desa diminta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kekeringan dan kebakaran selama musim kemarau," ujarnya.
Djoko menjelaskan kemarau panjang berpotensi menimbulkan kekeringan meteorologis yang menyebabkan berkurangnya ketersediaan air permukaan maupun air tanah. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada kebutuhan air bersih masyarakat, tetapi juga mengancam sektor pertanian.
Selain itu, vegetasi yang mengering selama musim kemarau meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
Karena itu, masyarakat diimbau menggunakan air secara hemat agar cadangan air dapat dimanfaatkan lebih lama hingga musim hujan tiba.
BPBD juga mengingatkan para petani untuk menyesuaikan pola tanam dengan memilih komoditas yang membutuhkan air lebih sedikit. Sementara pemerintah desa diminta mengoptimalkan pemanfaatan embung, sumur bor, serta penampungan air sebagai sumber cadangan apabila terjadi kekeringan.
Untuk menekan risiko kebakaran, masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar maupun membuang puntung rokok sembarangan di kawasan yang kering.
"Kondisi vegetasi saat musim kemarau sangat mudah terbakar sehingga api dapat cepat menyebar. Karena itu kami meminta masyarakat lebih berhati-hati," tegas Djoko.
BPBD juga menginstruksikan seluruh camat melakukan pemetaan wilayah yang berpotensi mengalami krisis air bersih maupun kekeringan lahan pertanian. Personel, peralatan, serta logistik kebencanaan telah disiapkan agar dapat segera diterjunkan apabila terjadi kondisi darurat.
Dengan langkah antisipasi tersebut, pemerintah berharap dampak musim kemarau panjang dapat diminimalkan sehingga kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi dan potensi bencana dapat ditekan. (Red/lis)
0 Comments:
Post a Comment