Kediri, iniberita.my.id – Musyawarah Daerah (Musda) ke-7 Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kabupaten Kediri resmi dibuka pada Rabu (16/7/2025), bertempat di Pondok Pesantren Nurul Hakim Kaliawen, Desa Ngino, Kecamatan Plemahan.
Forum lima tahunan ini menjadi momen penting bagi LDII dalam mengevaluasi dan menyusun kembali arah kebijakan serta program prioritas ke depan.
Wakil Bupati Kediri, Dewi Mariya Ulfa, yang hadir membuka acara, menyatakan bahwa Musda LDII merupakan ruang strategis dalam memperkuat kontribusi organisasi Islam terhadap persoalan-persoalan sosial, khususnya pendidikan dan perlindungan anak.
“LDII memiliki kekuatan kaderisasi dan pembinaan umat yang besar. Harapannya, LDII bisa bersinergi aktif dengan pemkab, terutama dalam mengatasi persoalan seperti pernikahan usia dini dan akses pendidikan untuk keluarga tidak mampu,” ujar Mbak Dewi.
Dia menyoroti keberhasilan Pemkab Kediri dalam menurunkan angka pernikahan dini sebesar 27 persen sepanjang 2023–2024. Menurutnya, capaian tersebut tidak lepas dari kolaborasi lintas sektor, termasuk peran pesantren dalam memberikan edukasi dan pendampingan.
Selain itu, Mbak Dewi juga mengenalkan dua program pendidikan gratis berasrama, yakni Sekolah Wanita Berjejaring dan Sekolah Rakyat, yang ditujukan bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera. “Pendidikan adalah hak semua anak. Program ini menjadi langkah konkret kita dalam memutus rantai kemiskinan ekstrem,” tandasnya.
Sementara itu, Ketua DPD LDII Kabupaten Kediri, Agus Sukisno, dalam laporannya menyampaikan bahwa Musda kali ini difokuskan pada evaluasi dan penguatan delapan klaster program strategis LDII, antara lain bidang kebangsaan, dakwah, ketahanan pangan, hingga pelestarian lingkungan.
“Kami juga mulai menerapkan energi ramah lingkungan di pondok, seperti pemanfaatan listrik tenaga surya. Ini wujud komitmen kami mendukung energi bersih,” katanya.
KH Lukman Hakim, pengasuh Ponpes Nurul Hakim, menambahkan bahwa pondoknya tidak hanya fokus pada pendidikan agama, tetapi juga menekankan pembinaan karakter dan profesionalitas santri. Hal itu tercermin dalam pendirian SMP Karakter Budi Utomo, sebagai bentuk integrasi antara pendidikan formal dan nilai-nilai moral.
“Dukungan pemerintah sangat membantu kami, mulai dari pembangunan rusun santri, penyediaan bus sekolah, hingga pembangkit listrik tenaga surya,” ungkapnya.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua DPW LDII Jawa Timur, KH Amrodji Konawi, menyampaikan bahwa LDII kini mulai aktif dalam isu-isu global, seperti perubahan iklim dan pengembangan energi terbarukan. Menurutnya, lebih dari 70 pesantren di Jatim telah mulai mengadopsi teknologi mikrohidro dan panel surya.
“LDII harus jadi bagian dari solusi. Tidak hanya berdakwah, tapi juga berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan,” pungkasnya.(RED.AL)

0 Comments:
Post a Comment