KEDIRI, iniberita.my.id – Dari luar, rumah di Perumahan Bumi Kunjang Asri, Desa Kunjang, Kecamatan Ngancar, tampak seperti hunian biasa. Namun siapa sangka, di balik kesederhanaan tampilan rumah tersebut, tersimpan kisah seorang pemuda yang sukses menekuni hobi tak biasa: beternak gecko.
Adalah Bhara Briellina Da Hellsa, pemuda 21 tahun yang dikenal di kalangan pencinta reptil, terutama gecko, sebagai salah satu breeder muda berbakat di wilayah Kediri Raya.
Ciri khas rumah yang dihuni Bhara menunjukkan kecintaannya pada hewan. Di sisi luar rumah, terdapat akuarium mini berisi lima ikan langka. Di dekatnya, terdapat kandang besi bekas tempat biawak yang kini kosong dan rencananya akan dijual. Suara burung peliharaan pun meramaikan suasana, dengan lima sangkar menggantung di teras.
Namun, gecko adalah hewan yang paling disayang Bhara. Ia bahkan menyimpan puluhan ekor di rumah kosong milik rekan ayahnya, yang berjarak enam rumah dari tempat tinggal utamanya. “Dulu awalnya saya simpan di kamar. Karena jumlahnya bertambah banyak, saya pindahkan ke rumah kosong,” tuturnya.
Setiap gecko ditempatkan dalam wadah plastik transparan atau thinwall, satu ekor per kotak. Bhara mulai memelihara gecko pada 2021, setelah sebelumnya sempat memelihara biawak. Gecko pertamanya berjenis tangerine tremper, dibelinya seharga Rp 42 ribu.
Tak sekadar memelihara, Bhara menekuni proses breeding (pengembangbiakan) gecko secara serius. Pengetahuannya ia gali dari jurnal ilmiah, karena ia memang gemar dengan topik genetika sejak kecil.
“Saya pernah nyambung durian montong dan musangking waktu SD. Waktu SMA, sempat mengawinkan ikan cupang untuk menciptakan varian warna baru,” kenangnya.
Sebagai lulusan akuntansi dan kini bekerja di perusahaan pakan ternak, Bhara tetap menyempatkan diri mendalami dunia gecko. Berkat kesungguhannya, gecko miliknya berkembang dari dua ekor menjadi 20 ekor, bahkan pernah mencapai 110 ekor. Karena jumlah yang terlalu banyak, sebagian ia jual secara borongan.
Namun Bhara tak asal kawin silang. Ia memahami betul risiko genetik, terutama pada gecko berjenis lemon frost dan enigma yang rawan mengalami cacat genetik. “Kalau lemon frost biasanya muncul benjolan, sedangkan enigma bisa terkena gangguan saraf,” jelas Bhara.
Ia lebih mengutamakan kualitas daripada kuantitas, bahkan tak segan meminjamkan gecko miliknya untuk dikawinkan dengan milik orang lain. Tak hanya itu, ia juga memberi edukasi dan konsultasi gratis kepada para pembelinya agar gecko dirawat dengan benar.
“Saya pernah memberi saran agar kandang jangan dilapisi cocopeat. Tapi ada pembeli yang bandel, dan geckonya mati. Setelah dibedah, ternyata cocopeat masuk ke tubuhnya,” ujar Bhara.
Kini, kiprah Bhara tak hanya dikenal di Kediri. Tahun lalu, tujuh ekor gecko hasil penangkarannya dikirim ke Malaysia, masing-masing laku Rp 350 ribu. Sebuah pencapaian luar biasa bagi breeder muda yang merintis semuanya secara otodidak.(red.al)

0 Comments:
Post a Comment