Kediri, iniberita.my.id– Kota Kediri dan wilayah sekitarnya tengah melangkah cepat menuju era ekonomi digital. Hal ini ditunjukkan oleh lonjakan signifikan penggunaan QR Code Indonesian Standard (QRIS) yang mencatat peningkatan tajam baik dari sisi jumlah transaksi, nilai transaksi, hingga jumlah merchant yang bergabung.
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sebelumnya mengungkapkan bahwa secara nasional, pengguna QRIS telah menembus angka 56 juta dengan total merchant mencapai 38 juta. Volume transaksi juga melonjak 173 persen, dengan nilai transaksi mencapai Rp 104 triliun hingga Maret 2025.
Tak ketinggalan, wilayah Kediri Raya dan Mataraman turut menunjukkan geliat serupa. Berdasarkan data dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kediri, nilai transaksi QRIS di Kota Kediri pada triwulan I tahun 2025 mencapai Rp 584,523 miliar, melonjak tajam dari Rp 148,608 miliar di periode yang sama tahun sebelumnya.
Bahkan, jika dibandingkan dengan triwulan IV tahun 2024, yang tercatat sebesar Rp 447,144 miliar, angkanya tetap menunjukkan tren kenaikan yang positif.
Volume transaksi pun turut meroket. Jika pada triwulan I 2023 baru tercatat 400.120 kali, maka pada triwulan I 2024 meningkat drastis menjadi 1.118.666 kali, dan di triwulan I 2025 menembus angka fantastis yaitu 5.521.255 kali.
“Kota Kediri menunjukkan pertumbuhan paling agresif dibandingkan wilayah lain dalam cakupan kerja BI Kediri,” ujar Kepala KPw BI Kediri, Yayat Cadarajat.
Kota Kediri kini menyumbang sekitar 18 persen dari total transaksi yang terjadi di seluruh wilayah kerja BI Kediri, yang mencakup Blitar, Tulungagung, Trenggalek, Madiun, Ponorogo, Pacitan, Nganjuk, Magetan, dan Ngawi. Total transaksi QRIS di wilayah kerja BI Kediri sendiri mencapai Rp 3,091 triliun.
Tak hanya dari sisi nilai transaksi, jumlah pelaku usaha yang menerima pembayaran lewat QRIS juga meningkat tajam. Dari 107.059 merchant pada triwulan I 2023, kini telah tumbuh menjadi 192.372 merchant pada triwulan I 2025. Artinya, terjadi pertambahan 85.313 merchant dalam dua tahun terakhir.
“Lonjakan merchant ini didorong pesatnya adopsi QRIS di Kota Tahu. Saat ini warung, toko kelontong, kafe, hingga restoran besar sudah menggunakan QRIS sebagai metode pembayaran utama,” jelas Yayat.
Pemkot Kediri bahkan telah menerapkan QRIS untuk berbagai pembayaran layanan publik, seperti retribusi parkir di beberapa titik pusat kota. Langkah ini tidak hanya meningkatkan efisiensi layanan publik, tetapi juga mendorong masyarakat semakin terbiasa dengan transaksi nontunai.
"Ini adalah bagian dari perjalanan menuju cashless society. Kita sedang menyaksikan pergeseran budaya dalam transaksi ekonomi masyarakat," tambahnya.
Lebih jauh, Yayat menekankan pentingnya digitalisasi dalam sistem ekonomi modern. Selain mempermudah transaksi, penggunaan QRIS juga membuka ruang transparansi, karena setiap transaksi tercatat secara digital dan mudah ditelusuri.
“Semua data terekam. Dan itulah keunggulan dari digitalisasi sistem keuangan kita. Ini tidak hanya efisien, tetapi juga memperkuat akuntabilitas,” tandasnya.(red.a)

0 Comments:
Post a Comment