Ribuan Warga Kota Kediri Putus Sekolah, Dinas Pendidikan Beri Penjelasan




KEDIRI, iniberita.my.id - Ribuan Warga Kota Kediri Putus Sekolah, Dinas Pendidikan Beri Penjelasan - Sumpah Pemuda yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober seolah jadi penggugah Dinas Pendidikan Kota Kediri akan pekerjaan rumah (PR) pengentasan angka putus sekolah (APS).

Karenanya, sumpah para pemuda 96 tahun silam itu jadi momentum agar masalah tersebut segera dituntaskan.

Data yang dihimpun koran ini menyebutkan, sesuai hasil penjaringan manual dengan target usia 7-50 tahun, total ada 1.548 orang terdata tidak sekolah.

Khusus untuk penduduk usia 7-19 tahun sesuai standar nasional, di Kota Kediri ada sekitar 1.600 warga yang tidak sekolah atau putus sekolah per Oktober 2024.

Mereka merupakan penduduk dengan kategori belum pernah sekolah, drop out, dan lulus tidak melanjutkan sekolah. Kepala Dinas Pendidikan Kota Kediri M

Anang Kurniawan mengatakna, ribuan data dari pusat itu masih akan diverifikasi ulang oleh Dinas Pendidikan Kota kediri.

“Kami lakukan inventarisasi ulang untuk memastikan kondisi riil di lapangan,” kata Anang.

Untuk menuntaskan APS, Anang menyebut pihaknya akan melakukan

Koordinasi lintas sektor. Salah satunya, dengan menggodok SK wali kota untuk penanganan APS agar semua anak di Kota Kediri bisa menutaskan pendidikannya.

Sementara itu, terkait peringatan Sumpah Pemuda yang kemarin berlangsung semarak di sejumlah sekolah, Anang menyebut peringatan tidak hanya diisi upacara atau apel saja.

Beberapa sekolah merayakan bersamaan dengan kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).

Salah satunya, dalam bentuk pawai budaya seperti yang digelar SMPN 1 Kota Kediri. “Kami tentu mendukung karena sebagai wujud pembinaan karakter anak juga,” tandasnya.

Pantauan koran ini, pawai budaya di SMPN 1 Kota Kediri kemarin diikuti oleh seluruh siswa kelas VII-IX.

Memakai baju adat dari berbagai daerah di Indonesia, mereka mengikuti pawai keliling Jl Diponegoro, Jl Basuki Rahmat, Jl Brawijaya, Jl Mayjen Sungkono, dan kembali lagi ke sekolah.

Tak hanya memakai baju adat, peserta yang juga mengikuti lomba baris kreasi itu melengkapi kelas mereka dengan berbagai properti. Sekitar seribu anak terlihat bersemangat mengikuti rangkaian pawai.

Bahkan, siswa yang sedang sakit pun tetap mengikuti pawai dengan memakai kursi roda. “Pesan saya, di momentum seperti ini jangan sampai memberatkan orang tua,” pinta Anang.

Nabillah Aluna Rayya, 14, salah satu siswa mengaku senang mengikuti pawai budaya.

Alasannya, hal tersebut bisa menambah kecintaannya pada budaya Indonesia. “Dari sini juga menunjukkan bahwa kita bangga mengenakan baju adat di Indonesia,” ujar siswa kelas VIII SMPN 1 Kota Kediri yang bercita-cita menjadi fashion designer itu.

Untuk diketahui, pawai budaya tidak hanya digelar SMPN 1 Kota Kediri saja. Beberapa sekolah memperingati dengan cara yang berbeda.

Mulai SMPN 8, hingga SMPN 4 yang juga menggelar parade budaya. Kepala SMPN 4 Kota Kediri Yayuk Sadiyastutik Cahyaningsih menyebut siswanya ikut aktif dalam aksi peraga dan teatrikal.

 “Juga lomba parade budaya. Tiap kelas ada dua perwakilan untuk menjawab pertanyaan yang mereka ambil dari undian. Jurinya dari pengurus PGRI Kota Kediri dan pemerhati seni,” terangnya. (Red.D)


0 Comments:

Post a Comment