Bisnis Kemitraan Berujung Penyesalan, Korban di Kediri Ceritakan Pengalaman



Kediri, iniberita.my.id - Model bisnis kemitraan memang menjanjikan pola hubungan dua arah yang saling menguntungkan. Namun, tidak selalu berakhir seperti yang diharapkan.

Bahkan, yang memiliki komoditas dengan permintaan pasar tinggi saja tidak semua senang dengan pola seperti ini.

Mujiono, ketua kelompok tani di Desa Mejono, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri, mengaku banyak mendapat penawaran bertani padi atau jagung dengan pola kemitraan. Dia pun pernah melakukannya. Tapi, justru hal itu membuatnya kapok.

Mengapa? “Buahnya itu Mbak, kadang nggak sesuai," akunya.

Jawaban serupa juga dikatakan oleh Sujarwo, ketua kelompok tani di Dusun Sumbermulyo. Puluhan tahun menjadi petani, memakai benih baru bukan keputusan yang mudah. Pasalnya, ada ketidakpastian.

"Kadang-kadang itu buah (jagung atau padi, red) itu kecil. Nggak pasti," jelas Sujarwo.

Tetapi alasan mereka tak hanya karena buah dari tanaman tersebut. Melainkan juga pernah mengalami keterlambatan pembelian hasil panen. Artinya, perusahaan tidak menepati kerjasama yang telah disepakati.

"Katanya panen langsung dibeli (dalam keadaan basah, Red). Terus dienteni dua tiga hari ga enek mara, lha jagung lak gak dijemur ya busuk. Didol dewe ngko dituntut, soale wis tanda tangan kerja samane kuwi," beber Mujiono.

Otomatis, berat dari buah jagung itu akan berkurang. Kala itu, perusahaan yang dijanjikan akan membeli hasil panen baru membeli setelah seminggu kemudian.

Walaupun harga pembelian jagung sudah ditetapkan di awal kerja sama, tetapi jagung yang dibeli sudah dalam keadaan kering

"Ya dulu sempat ada ganti ruginya. Tapi akhire ya wis gak maneh. Diitung-itung asline ya pada ae karo dikerjakne dewe," kata Mujiono.

Beda lagi dengan para mitra koperasi NMSI. Mereka tertarik ikut bisnis tersebut karena terpikat keuntungan besar dalam waktu singkat.

Slamet Riyadi misalnya. Dia mengaku mengikuti investasi madu klanceng pada 2018. Pemicunya, dia terbuai dengan iklan di salah satu televisi lokal.

“Lama-lama penasaran kan, akhirnya saya ke kantornya yang dekat stadion buat nanya-nanya,” terang Slamet.

Slamet yang pekerja serabutan ini tentu saja tak punya basic keterampilan sebagai peternak madu klanceng. Toh, dia berani membeli 50 stup (kotak pembenihan madu klanceng) berukuran kecil.

Agar paham, seminggu sekali dia melihat tayangan televisi untuk belajar budi daya madu klanceng.

“Jadi satu minggu sekali dia menjelaskan tentang lebah, mungkin vegetasi, cara merawat lebah waktu hujan itu bagaimana caranya,” beber pria 40 tahun itu.

Saat itu ia tidak memiliki pikiran negatif.

Iklan di televisi ditambah dengan keyakinan anggota koperasi membuat Slamet yakin. Selain itu, koperasi tersebut juga menggandeng polisi yang berada di polsek seluruh Jawa Timur.

Ketika ganti kepengurusan pun Slamet juga mempercayainya 100 persen. “Apa yang dikatakan pihak koperasi, ya oke,” papar Slamet.

Saat panen pertama, juga tak ada masalah. Slamet pun menambah kepemilikan stup hingga ribuan. Karena tempat terbatas, dia kemudian menitipkan sebagain ke gudang NMSI yang ada di wilayah Semen.

“Terakhir di rumah ada 700 lebih stup. Itu belum yang dititipkan di gudang,” jelasnya.

Tak hanya Slamet saja yang menitipkan stup tersebut ke gudang milik NMSI. Namun ribuan mitra yang lain pun juga.

Menurutnya, dengan menitipkan di gudang tersebut, para mitra tidak ambil pusing dengan pengelolaan lebah.

Ribuan mitra tersebut juga percaya dengan itu. Sebab, pihak koperasi meyakinkan dengan cara mitra diberikan sandi CCTV yang bisa diakses kapan saja untuk melihat puluhan stup itu berada di gudang milik NMSI.

Man, 36, korban lainnya, juga mengaku tergiur dengan iklan di stasiun televisi lokal. Juga, karena pihak koperasi menggandeng tokoh-tokoh kenamaan, termasuk mengajak polisi.

“Jadi kami langsung percaya dan tertarik berinvestasi,” terang Man.

Dia juga semakin yakin karena marketing koperasi juga melakukan survei ke rumah. Mereka mengecek kondisi tanaman di sekitar rumah. “Oh, ini tanamannya harus ditambah,” papar Man menirukan ucapan marketing terkait kondisi tanaman di sekitar rumahnya yang akan menjadi pakan klanceng.

Setelah benar-benar yakin, Man lantas menginvestasikan uang Rp 50 juta. Dia mendapat 50 stup atau kotak klanceng yang harus dibudidayakan. “Tiga bulan awal sudah panen dan mendapat untung,” kenangnya.

Man yang kesehariannya bekerja sebagai pegawai di perusahaan swasta mengaku sebelumnya ia tidak memiliki basic beternak lebah klanceng. Namun ketika ia memutuskan untuk berinvestasi, ia langsung mencari ilmu beternak di Youtube.

Man pun memutuskan untuk menambah nilai investasinya hingga mencapai Rp 332 juta. Ratusan stupnya pun ia kelola sendiri di rumah.

Hingga, pada awal 2021 tiba-tiba kantor NMSI di Jl Patiunus Kota Kediri digerebek para anggotanya. Rupanya mereka meminta imbal hasil yang tak kunjung cair.

Sebagian menyatakan hendak menarik modalnya. Namun, hal tersebut tidak bisa dilakukan dengan dalih uang koperasi dibawa kabur oleh Christian Anton Hardianto, ketua Koperasi NMSI.

“Saya tahunya sudah ramai-ramai di kantor dan muncul berita,” ucapnya. (Red.D)


0 Comments:

Post a Comment