Kediri, iniberita.my.id - Uji pembebanan atau loading test Jembatan Semampir terus berlanjut. Kemarin, petugas melakukan pengujian statis dengan mendatangkan delapan unit dump truck.
Dari pengujian itu, diketahui terdapat penurunan struktur Jembatan Semampir hingga delapan milimeter.
Uji pembebanan dilakukan dengan beberapa tahap. Dump truck dengan muatan masing-masing 10 ton diparkir di jembatan dalam kurun waktu sekitar 15 menit.
Di setiap tahapannya, beban ditambahkan 20 ton. Hingga total maksimal 80 ton dari delapan unit truk di jembatan tersebut.
Setelah beberapa saat, petugas pun mengukur perubahan permukaan bentang jembatan.
Dari situ, beberapa kali terdapat penurunan ketinggian yang bervariasi. Mulai dari 2 milimeter (mm), 6 mm, hingga 8 mm.
“Tapi data ini nanti masih akan diolah (untuk pengkajian, Red),” kata sumber koran ini sembari menyebut kondisi struktur jembatan masih belum bisa disimpulkan.
Terlepas dari hasil uji beban, secara kasat mata sudah terlihat adanya lendutan atau lekukan di bentang jembatan yang dibangun sejak 1992 itu.
Indikasi jembatan yang sedang tidak baik-baik saja itu tidak hanya nampak dari permukaan atau lantai jembatan saja.
Melainkan juga dari besi pembatas jembatan yang secara visual terlihat melengkung ke bawah di beberapa titik.
Penurunan cenderung terjadi di bentang tengah jembatan. Sedangkan pilarnya nampak relatif stabil tanpa perubahan yang signifikan.
Terkait jalannya proses pengujian jembatan yang berada di Kelurahan Semampir itu, Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Timur-Bali belum bisa banyak membeberkan.
“Karena hasilnya nanti perlu diolah kembali sama teman-teman Balai Jembatan Bandung,” ujar Pejabat Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Timur-Bali Satiya Wardana.
Sementara itu, proses pengujian itu dijadwalkan selesai dalam tujuh hari hingga Minggu (27/10) mendatang.
Setelah itu, akan dilakukan pemortalan atau pembatasan terhadap kendaraan-kendaraan besar hingga Maret 2025 mendatang.
“Di depan nanti ada portal di dua sisi. Dari sisi barat dan timur kita tutup untuk pembatasan kendaraan berat.
Jadi yang lewat hanya yang kendaraan kecil saja,” bebernya.
Meski begitu, menurut Satiya kondisi jembatan masih dirasa aman untuk dilalui kendaraan dengan beban ringan.
“Masih nggak apa-apa. Kalau kendaraan beban berat seperti truk dan bus itu kami batasi. Bus pun kami batasi, mungkin hanya bisa yang kecil, ya,” tandas Satiya.
Untuk diketahui, jembatan vital yang berada di Kelurahan Semampir itu ditutup total sejak Senin (21/10) lalu.
Penutupan itu imbas sedang dilakukannya uji pembebanan oleh BBPJN Jatim-Bali menyusul rencana penggantian jembatan yang sudah berusia 32 tahun itu.
Imbas penutupan jembatan tersebut, arus lalu lintas dialihkan. Termasuk angkutan bus dan truk yang dikenai rekayasa lalu lintas.
Bus antarkota dalam provinsi (AKDP) jurusan Surabaya-Tulungagung dan sebaliknya termasuk yang terdampak sehingga harus melintas di dalam kota selama rekayasa lalu lintas diterapkan. (Red.D)
.jpeg)
0 Comments:
Post a Comment