Tiga Siswa MAN 2 Kota Kediri Ciptakan Game Petualangan Menjelajahi Cagar Budaya

 


Kediri, iniberita.my.id – Di lobi madrasah yang terletak di Jalan Letjend Suprapto, dua remaja tampak sibuk bermain game di ponsel mereka. Jemari mereka bergerak lincah, mengendalikan karakter dalam permainan yang mengajak mereka menjelajahi situs-situs bersejarah di Kota Kediri.

Apa yang membuat game ini menarik? Ternyata, game yang sedang dimainkan oleh M. Rif’an Ahya dan Mohammad Raihan Irfanul Akbar bukanlah permainan pertarungan seperti Mobile Legend. Sebaliknya, ini adalah game petualangan yang dirancang untuk mengeksplorasi lokasi cagar budaya.

Yang lebih menakjubkan, game ini merupakan hasil karya tiga siswa MAN 2 Kota Kediri. Selain kedua pemuda yang terlihat asyik bermain, Zacky Althaf juga merupakan bagian dari tim pengembang, meski saat ini Zacky sedang sakit. 

“Rencana pembuatan game ini dimulai pada bulan Maret, tetapi baru efektif dijalankan pada Juli dan Agustus. Kami harus membagi waktu dengan kegiatan madrasah,” ungkap Ahya, menjelaskan proses pembuatan game yang memakan waktu lima bulan.

Game edukatif yang mereka buat diberi nama Keche, singkatan dari Kediri Cultural Heritage. Sesuai namanya, game ini bertujuan untuk mengedukasi pemain tentang cagar budaya dengan cara yang menyenangkan dan modern. Game ini mengajak siapa saja untuk berpetualang dan menjelajahi objek-objek bersejarah di Kota Kediri melalui format interaktif.

Uniknya, meskipun mereka bukan asli dari Kota Kediri, tim kreator game ini terdiri dari Zacky yang berasal dari Kota Blitar dan dua rekannya dari Kabupaten Nganjuk. “Zacky tertarik dengan objek-objek bersejarah di sini dan penasaran kenapa teman-teman tidak tahu tentangnya,” kata Ahya, menjelaskan bagaimana ide game ini muncul.

Dengan tantangan tersebut, ketiganya memutuskan untuk membuat sebuah permainan yang juga bertujuan mengenalkan tempat-tempat bersejarah. Mereka berencana mengikuti ajang Madrasah Young Researchers (MYRES) yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama (Kemenag) dan segera merealisasikan ide mereka dalam bentuk game, meski prosesnya cukup melelahkan.

“Setelah melakukan riset, kami memutuskan untuk memasukkan 10 situs cagar budaya dalam game ini, termasuk Gereja Merah, gedung SMAN 1 Kota Kediri, Wisma Kapolres, dan sekolah Taman Siswa,” tambah Ahya.

Game ini menampilkan dua karakter utama, Panji dan Mulyono. Panji adalah karakter petualang, sementara Mulyono adalah profesor yang memberikan petunjuk. Raihan menjelaskan, “Mulyono memberikan informasi tentang tujuan petualangan hari ini, misalnya ke Gereja Merah.”

Dengan desain yang sederhana namun menarik, game ini menggunakan palet warna ungu dan biru. Keberhasilan mereka masuk dalam 30 besar MYRES 2024 merupakan bukti daya tarik game ini. Dari tujuh ribu proposal yang masuk dari seluruh Indonesia, mereka berhasil terpilih sebagai salah satu dari 120 terbaik, dan kemudian terpilih menjadi 30 besar.

“Keberhasilan ini merupakan hasil kerja keras mereka selama lima bulan, termasuk begadang dan menyiasati padatnya kegiatan belajar,” kata Tyas Asih Ismiati, salah satu guru pembimbing.

Meskipun mereka tidak melanjutkan ke tahap berikutnya di MYRES, pengembangan game terus berlanjut dengan melakukan uji validasi dan uji materi. “Kami telah menerima banyak masukan untuk pengembangan lebih lanjut dan saat ini sedang dalam tahap evaluasi sebelum peluncuran resmi,” ujar Tyas.

Kepala MAN 2 Kota Kediri, Nursalim, memberikan apresiasi tinggi terhadap karya kreatif siswa ini. “Ini adalah prestasi yang luar biasa, terutama mengingat waktu dan kesibukan mereka di sekolah. Karya ini diharapkan memberikan manfaat besar bagi Kota Kediri setelah diluncurkan,” ujarnya. (Red.N)

0 Comments:

Post a Comment