, , ,

Kemdiktisaintek Luncurkan Aksara 2026, Mahasiswa Diajak Bangun Desa dan Kelola Sampah


SOSIALISASI PROGRAM: Narasumber dari Kemdiktisaintek menyampaikan penjelasan secara daring mengenai Program Aksara Mahasiswa 2026. (web/kemdiktisaintek)



KEDIRI
– Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) resmi membuka Program Aksara Mahasiswa 2026, sebuah program pengabdian masyarakat yang mendorong mahasiswa terlibat langsung dalam menyelesaikan berbagai persoalan sosial, ekonomi, hingga lingkungan di berbagai daerah di Indonesia.

Program ini menjadi wadah bagi organisasi kemahasiswaan di perguruan tinggi untuk berkolaborasi dengan dosen pembimbing, pemerintah daerah, serta masyarakat dalam menghadirkan solusi yang berkelanjutan.

Aksara merupakan singkatan dari Aksi Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa. Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman belajar di luar ruang kelas, tetapi juga diharapkan mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Sasaran utama program adalah wilayah tertinggal, daerah rawan bencana, serta kawasan dengan tingkat kemiskinan yang masih tinggi. Berbagai persoalan di bidang sosial, ekonomi, kesehatan, lingkungan, hingga pemberdayaan masyarakat menjadi fokus utama kegiatan.

Terdiri dari Dua Skema Program

Program Aksara Mahasiswa 2026 dibagi menjadi dua skema utama yang dapat dipilih sesuai kebutuhan masyarakat.

Skema pertama adalah Aksara Peduli, yang berfokus pada penyelesaian persoalan di bidang ketahanan pangan, energi, kesehatan masyarakat, pengembangan usaha kreatif, pelestarian lingkungan, kelautan, hingga berbagai kebutuhan lain yang disesuaikan dengan kondisi wilayah sasaran.

Sementara itu, skema kedua adalah Aksara Sirkular, yang secara khusus mengangkat isu pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Melalui skema ini, mahasiswa akan mendampingi masyarakat dalam berbagai kegiatan, mulai dari edukasi pengelolaan sampah, pemilahan sampah dari sumbernya, penguatan Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS 3R), pengembangan bank sampah, hingga pemanfaatan limbah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.

Pendanaan Capai Rp120 Juta

Setiap tim yang lolos seleksi berhak memperoleh bantuan pendanaan antara Rp80 juta hingga Rp120 juta.

Program dilaksanakan selama enam bulan, dengan keterlibatan mahasiswa minimal 160 jam kerja selama masa pelaksanaan kegiatan.

Seluruh proposal diajukan melalui sistem BIMA menggunakan akun ketua tim dosen pembimbing.

Sebelum mengajukan proposal, setiap tim diwajibkan menyusun identifikasi persoalan yang akan diselesaikan, menentukan lokasi kegiatan, menetapkan kelompok masyarakat sasaran, melibatkan pemerintah daerah setempat, serta menyusun metode pelaksanaan yang tepat.

Jadwal Pelaksanaan

Kemdiktisaintek menjadwalkan pengumuman penerima pendanaan dilakukan pada Agustus 2026.

Selanjutnya, pelaksanaan program berlangsung hingga Desember 2026 dengan sejumlah tahapan evaluasi.

Pada Oktober, setiap tim diwajibkan menyampaikan laporan perkembangan kegiatan. Evaluasi dan penilaian program dilakukan pada November, sedangkan laporan akhir harus diserahkan pada Desember.

Monitoring tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh kegiatan benar-benar memberikan manfaat kepada masyarakat serta memiliki keberlanjutan setelah program selesai.

Dorong Solusi Berkelanjutan

Program Aksara Mahasiswa tidak hanya menitikberatkan pada pelaksanaan kegiatan pengabdian, tetapi juga menilai sejauh mana solusi yang diberikan mampu bertahan dan terus dimanfaatkan masyarakat setelah mahasiswa menyelesaikan tugasnya.

Karena itu, keberhasilan program akan ditentukan oleh ketepatan dalam mengidentifikasi persoalan, tingkat partisipasi masyarakat, efektivitas metode yang digunakan, serta keberlanjutan hasil program di lapangan.

Melalui Program Aksara Mahasiswa 2026, Kemdiktisaintek berharap lahir berbagai inovasi dari kalangan mahasiswa yang mampu membantu meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi sebagai mitra pembangunan nasional.(red/lis)

Continue reading Kemdiktisaintek Luncurkan Aksara 2026, Mahasiswa Diajak Bangun Desa dan Kelola Sampah
, , ,

Aksi Biadab di Kandat! Kereta Berusia Seabad Dicoret Cat, Warga Geram


SASARAN VANDALISME - Nampak kereta kuno peninggalan Bupati Kediri era kolonial Belanda yang dikenal dengan nama "Mbah Gleyor" penuh dengan coretan, Jumat (31/7/2026).(by tribunjatim.com)



KEDIRI
– Aksi vandalisme mencoreng salah satu warisan sejarah paling berharga di Kabupaten Kediri. Kereta kuno Mbah Gleyor, peninggalan Bupati Kediri pada era kolonial Belanda, ditemukan dalam kondisi dipenuhi coretan cat dan mengalami kerusakan pada sejumlah bagian bodinya.

Peristiwa tersebut pertama kali diketahui warga Dusun Kartosari, Desa Kandat, Kecamatan Kandat, Jumat (31/7/2026) sekitar pukul 08.00 WIB. Temuan itu sontak mengejutkan masyarakat karena kereta bersejarah tersebut selama ini dikenal sebagai salah satu ikon budaya yang dijaga bersama.

Saat ditemukan, badan kereta dipenuhi gambar panah dan berbagai simbol menggunakan cat hijau. Selain itu, sejumlah bagian kayu jati yang menjadi ciri khas kereta berusia lebih dari satu abad tersebut juga tertutup cat berwarna putih dan cokelat sehingga menghilangkan tampilan aslinya.

Kereta Mbah Gleyor sendiri dipajang di bawah bangunan beratap joglo di Jalan Glinding, Dusun Kartosari, Desa Kandat. Lokasi penyimpanannya berada tepat di depan rumah keturunan Bupati Kediri terdahulu yang hingga kini masih menyimpan berbagai benda bersejarah keluarga.

Dengan panjang sekitar tujuh meter dan lebar dua meter, kereta berbahan kayu jati tersebut diyakini merupakan peninggalan K.R.T. Djojohadiningrat, Bupati Kediri pada awal abad ke-20 ketika Indonesia masih berada di bawah pemerintahan kolonial Belanda.

Kepala Dusun Kartosari, Darmawan, mengungkapkan bahwa pihaknya menerima laporan dari warga mengenai adanya kerusakan pada kereta pusaka tersebut. Setelah dilakukan pengecekan, kondisi kereta memang telah dipenuhi cat dan berbagai gambar yang diduga dibuat secara sengaja.

Menurutnya, selama ini warga selalu menjaga keberadaan kereta tersebut. Area penyimpanan juga dipagari dan biasanya dalam kondisi terkunci sehingga aksi perusakan tersebut benar-benar di luar dugaan masyarakat.

"Selama ini warga ikut menjaga dan menghormati peninggalan sejarah ini. Kami tidak menyangka ada orang yang tega melakukan vandalisme terhadap benda bersejarah," ujarnya.

Tidak hanya kereta Mbah Gleyor, sebuah arca yang berada di kompleks makam keluarga tak jauh dari lokasi juga ditemukan memiliki coretan dengan warna dan pola yang hampir sama. Kondisi tersebut memunculkan dugaan bahwa kedua aksi perusakan dilakukan oleh pelaku yang sama.

Meski demikian, perangkat desa menyerahkan sepenuhnya proses penyelidikan kepada aparat kepolisian guna memastikan siapa pelaku di balik aksi vandalisme tersebut.

Pemerintah desa juga mulai berkoordinasi dengan instansi terkait agar kereta bersejarah itu dapat dipulihkan tanpa menghilangkan nilai historis yang dimilikinya.

Ketua Dewan Kebudayaan Kabupaten Kediri (DK3), Imam Mubarok, menyayangkan insiden tersebut. Menurutnya, aksi vandalisme terhadap benda bersejarah menjadi tamparan keras bagi upaya pelestarian warisan budaya di Kabupaten Kediri.

Ia menilai minimnya sistem pengamanan, termasuk belum adanya kamera pengawas (CCTV) di sekitar lokasi, membuat situs budaya rentan menjadi sasaran pelaku perusakan.

"Laporan sudah kami sampaikan kepada pemerintah daerah dan kepolisian. Harapannya kasus ini segera terungkap agar kejadian serupa tidak kembali terjadi," katanya.

Sementara itu, Kapolsek Kandat Iptu Abdul Azis membenarkan pihaknya telah menerima laporan dugaan vandalisme tersebut. Polisi langsung mendatangi lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), mengumpulkan barang bukti, serta menelusuri rekaman CCTV di sekitar lokasi yang diduga dapat membantu mengidentifikasi pelaku.

Hingga kini penyelidikan masih terus berlangsung. Polisi juga mengimbau masyarakat yang mengetahui informasi terkait aksi perusakan tersebut agar segera melapor demi mempercepat proses pengungkapan kasus. (Red/EI)

Continue reading Aksi Biadab di Kandat! Kereta Berusia Seabad Dicoret Cat, Warga Geram

Bandara Dhoho Kediri Bersiap Jadi Gerbang Haji Jawa Timur Selatan pada 2027

 


CEK LOKASI: Dirjen Pelayanan Haji Ian Heriyawan (tengah) mendapat penjelasan dari Wakil Bupati Dewi Mariya Ulfa ketika survei kesiapan fasilitas penunjang Bandara Dhoho sebagai embarkasi haji pada 2027 nanti.



KEDIRI - Kementerian Haji Republik Indonesia kembali menegaskan rencana menjadikan Bandara Dhoho Kediri sebagai embarkasi haji mulai musim haji 2027. Kepastian tersebut disampaikan saat tim Kementerian Haji bersama Pemerintah Kabupaten Kediri melakukan survei lapangan pada Kamis (30/7).

Direktur Jenderal Pelayanan Haji, Ian Heriyawan, mengatakan penetapan Bandara Dhoho sebagai embarkasi merupakan arahan langsung dari Menteri dan Wakil Menteri Haji. Menurutnya, kesiapan tersebut tidak lepas dari dukungan Pemerintah Kabupaten Kediri beserta seluruh pemangku kepentingan yang terlibat.

"Insya Allah tahun depan Bandara Dhoho akan menjadi embarkasi haji. Persiapannya sudah kami hitung dan kami optimistis dapat direalisasikan," ujarnya.

Berdasarkan hasil survei, infrastruktur Bandara Dhoho dinilai telah memenuhi persyaratan untuk melayani operasional penerbangan haji. Bandara tersebut bahkan dinyatakan mampu didarati pesawat berbadan lebar (wide-body aircraft) yang lazim digunakan untuk mengangkut jemaah haji.

Dengan kemampuan tersebut, penerbangan dari Kediri menuju Arab Saudi dapat dilakukan secara langsung tanpa transit untuk pengisian bahan bakar. Skema ini diperkirakan akan meningkatkan efisiensi sekaligus menekan biaya operasional penerbangan haji.

Ian menambahkan, dari sisi teknis seluruh persyaratan telah diperiksa oleh Kementerian Perhubungan. Saat ini, proses yang tersisa lebih banyak berkaitan dengan penyelesaian teknis pelaksanaan dan realisasi operasional.

Dalam peninjauan tersebut, rombongan Kementerian Haji didampingi Wakil Bupati Kediri Dewi Mariya Ulfa dan Asisten I Sekda Kabupaten Kediri Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sukadi. Mereka meninjau jalur akses mulai Exit Tol Manyaran hingga Exit Tol Bandara Dhoho.

Wakil Bupati Dewi Mariya Ulfa menjelaskan, Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana terus mendorong percepatan pembangunan proyek strategis nasional, khususnya Jalan Tol Kertosono–Kediri dan Jalan Tol Kediri–Tulungagung yang menjadi akses utama menuju Bandara Dhoho.

Untuk ruas Tol Kertosono–Kediri, luas lahan terdampak di Kabupaten Kediri mencapai 423.391 meter persegi yang terbagi dalam 486 bidang. Hingga kini, sebanyak 455 bidang atau sekitar 93,6 persen telah berhasil dibebaskan dengan total luas 396.272 meter persegi.

Sementara itu, 31 bidang lainnya masih dalam proses penyelesaian. Hambatan yang dihadapi antara lain sengketa ahli waris, penolakan terhadap nilai Uang Ganti Kerugian (UGK), serta persoalan status kepemilikan tanah yang belum tuntas.

Pemerintah Kabupaten Kediri pun terus berkoordinasi dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN) dan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) agar proses konsinyasi melalui Pengadilan Negeri dapat segera dilakukan sesuai aturan yang berlaku.

Di sisi lain, untuk pembangunan Jalan Tol Kediri–Tulungagung yang juga menjadi akses menuju Bandara Dhoho, Bupati Hanindhito telah membentuk Tim Percepatan Pengadaan Tanah melalui surat keputusan khusus. Langkah ini diharapkan mampu mempercepat penyelesaian pembebasan lahan di lapangan.

Ruas tol tersebut mencakup 753 bidang tanah dengan total luas sekitar 407.851 meter persegi di wilayah Kabupaten Kediri. Secara umum proses pengadaan tanah hampir rampung, meski masih terdapat beberapa bidang berupa Tanah Kas Desa, Barang Milik Daerah, dan tanah wakaf yang memerlukan penyelesaian administrasi, termasuk perpanjangan Penetapan Lokasi (Penlok). (red/hep)

Continue reading Bandara Dhoho Kediri Bersiap Jadi Gerbang Haji Jawa Timur Selatan pada 2027

Tongkat Estafet Kepemimpinan Berganti, AKBP Kresno Nahkodai Polres Kediri Kota

 

Tepat 1 Tahun Menjabat Kapolres Kediri Kota, AKBP Kresno Wisnu Putranto resmi gantikan AKBP Anggi Saputra Ibrahim.



KEDIRI - Tongkat estafet kepemimpinan di jajaran Polres Kediri Raya resmi berganti. Di Polres Kediri Kota, AKBP Kresno Wisnu Putranto dipercaya menggantikan AKBP Anggi Saputra Ibrahim. Sementara itu, di Polres Kediri, kepemimpinan kini diemban AKBP Muhammad Wahyudin Latif yang melanjutkan tugas AKBP Bramastyo Priaji.

Berbekal pengalaman panjang di berbagai satuan kepolisian, AKBP Kresno Wisnu Putranto optimistis mampu menjalankan tugas sebagai Kapolres Kediri Kota. Menurutnya, koordinasi dan kolaborasi dengan berbagai pihak akan menjadi kunci dalam pelaksanaan tugas.

"Selama bertugas, saya selalu mengedepankan koordinasi dan kolaborasi, baik dengan instansi terkait maupun masyarakat," ujar perwira yang akrab disapa Wisnu tersebut.

Wisnu merupakan putra asli Jawa Timur. Ia lahir di Kota Malang pada 1984 dan berasal dari keluarga yang berdomisili di Kabupaten Nganjuk. Meski demikian, penugasannya sebagai Kapolres Kediri Kota menjadi pengalaman pertamanya menginjakkan kaki di Kota Kediri.

"Kesan pertama saya, Kota Kediri terlihat rapi. Itu menunjukkan masyarakatnya memiliki tingkat kedisiplinan yang baik," ungkapnya.

Selama berkarier di kepolisian, ayah tiga anak tersebut banyak berkecimpung di bidang reserse kriminal, baik tindak pidana umum, tindak pidana khusus, maupun reserse narkoba.

Salah satu prestasi yang pernah ditorehkannya adalah mengungkap jaringan peredaran sabu asal Malaysia dengan nilai barang bukti mencapai lebih dari Rp3 miliar. Dalam operasi tersebut, polisi berhasil mengamankan sekitar 2,5 kilogram sabu, ratusan butir ekstasi, serta pil Happy Five.

Wisnu juga terlibat dalam berbagai pengungkapan kasus narkotika berskala besar lainnya, termasuk operasi bersama Satgas Merah Putih yang berhasil membongkar peredaran sekitar 1,2 ton sabu di Aceh.

Sementara itu, AKBP Muhammad Wahyudin Latif juga memiliki rekam jejak yang tak kalah mentereng. Lulusan Akpol 2006 tersebut mengawali kepemimpinannya di Polres Kediri dengan memprioritaskan pemetaan berbagai persoalan di wilayah hukum setempat melalui audit dan evaluasi secara menyeluruh.

Menurut Latif, langkah tersebut penting sebagai dasar dalam menyusun strategi peningkatan kinerja kepolisian, baik dari sisi internal maupun eksternal. Ia mengakui masih dalam tahap mengenali karakteristik wilayah beserta berbagai tantangan yang dihadapi.

"Saat ini kami masih dalam tahap mengidentifikasi berbagai persoalan. Setelah itu akan dilakukan evaluasi dan audit terhadap kondisi di Kabupaten Kediri, baik secara internal maupun eksternal," jelasnya.

Latif menegaskan bahwa peningkatan kualitas pelayanan publik menjadi salah satu fokus utama selama masa kepemimpinannya. Di sisi lain, penegakan hukum akan terus dijalankan secara humanis, profesional, dan berkeadilan.

Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk insan media, untuk turut memberikan masukan dan dukungan demi meningkatkan kualitas pelayanan kepolisian.

"Kami berharap seluruh elemen masyarakat, termasuk rekan-rekan media, dapat berpartisipasi memberikan masukan dan dukungan agar pelayanan kepolisian ke depan semakin baik," pungkasnya. (red/hep)

Continue reading Tongkat Estafet Kepemimpinan Berganti, AKBP Kresno Nahkodai Polres Kediri Kota