, ,

Demi Akurasi Data, Petugas Sensus Ekonomi Rela Susuri Zona Merah Semeru

Hendra Septyantoro (31), petugas Sensus Ekonomi 2026 menyeberangi aliran lahar Gunung Semeru di Sungai Regoyo, photo by suarajatim.id




LUMAJANG- Aroma belerang yang menyengat menjadi teman perjalanan Hendra Septyantoro, 31, saat menjalankan tugas sebagai petugas mitra Badan Pusat Statistik (BPS). Di balik megahnya Gunung Semeru, ia harus menembus medan berat dengan menyeberangi aliran Sungai Regoyo demi mendata pelaku usaha dalam Sensus Ekonomi 2026.

Perjalanan yang dijalani Hendra bukanlah aktivitas wisata maupun petualangan alam. Setiap langkah yang diambil merupakan bagian dari tanggung jawab besar untuk memastikan data ekonomi masyarakat tercatat secara akurat.

Pada Kamis (25/6), Hendra bertugas menyisir Dusun Sumberlangsep, Desa Jugosari, Kabupaten Lumajang. Wilayah tersebut dikenal sebagai salah satu daerah paling sulit dijangkau karena berada di kawasan rawan bencana Gunung Semeru. Akses menuju lokasi hanya dapat ditempuh dengan melintasi jalur aliran lahar dingin yang setiap saat berpotensi membahayakan keselamatan.

"Rasa waspada pasti selalu ada. Jalur menuju dusun ini cukup ekstrem dan tidak memiliki akses alternatif. Kalau ingin menyelesaikan tugas, satu-satunya jalan memang harus melewati aliran lahar," ujar Hendra.

Menurutnya, tantangan terbesar bukan hanya kondisi medan yang berat, melainkan juga faktor cuaca yang sulit diprediksi. Ketika hujan turun di kawasan puncak Semeru, debit aliran lahar dingin dapat meningkat secara tiba-tiba sehingga membahayakan siapa pun yang sedang melintas.

Karena itu, ia selalu mengatur waktu keberangkatan sedini mungkin. Seluruh aktivitas pendataan diupayakan selesai sebelum sore hari, saat potensi hujan mulai meningkat.

"Kalau langit mulai mendung, kami harus segera kembali. Risiko banjir lahar bisa datang tanpa tanda-tanda," katanya.

Sesampainya di lokasi, tantangan belum berakhir. Hendra masih harus berhadapan dengan dinamika masyarakat yang menjadi responden sensus. Tidak sedikit warga yang sedang bekerja di luar rumah sehingga sulit ditemui. Sebagian lainnya masih bersikap hati-hati terhadap orang yang datang melakukan pendataan.

Akibatnya, Hendra kerap harus mendatangi alamat yang sama hingga dua atau tiga kali sebelum akhirnya berhasil melakukan wawancara.

"Dalam sehari targetnya sekitar 10 sampai 12 responden. Kadang harus bolak-balik karena pemilik usaha tidak ada di rumah atau masih ragu memberikan informasi. Yang penting kami tetap sabar dan ramah agar mereka merasa nyaman," ungkapnya.

Kerja keras Hendra merupakan bagian dari operasi besar Sensus Ekonomi 2026 yang melibatkan 1.161 petugas mitra BPS di Kabupaten Lumajang. Mereka diterjunkan ke berbagai wilayah, mulai dari kawasan perkotaan hingga pelosok desa yang memiliki tingkat kesulitan akses tinggi.

Kepala BPS Lumajang, Mochammad Sonhaji, menjelaskan bahwa sensus tahun ini memiliki fokus berbeda dibandingkan pelaksanaan sebelumnya. Selain mendata usaha yang telah terdaftar secara formal, petugas juga diarahkan untuk mengidentifikasi berbagai unit usaha yang selama ini belum tercatat dalam basis data pemerintah.

Usaha-usaha tersebut antara lain pelaku perdagangan melalui platform digital atau e-commerce yang beroperasi dari rumah, jasa konstruksi skala kecil, usaha rumahan, hingga berbagai aktivitas ekonomi informal yang belum memiliki identitas usaha maupun papan nama.

Menurut Sonhaji, keberadaan sektor usaha semacam ini semakin berkembang dan memiliki kontribusi terhadap perekonomian daerah. Oleh karena itu, pendataan yang komprehensif menjadi penting agar pemerintah memiliki gambaran nyata mengenai struktur ekonomi masyarakat.

"Data Sensus Ekonomi akan menjadi dasar dalam penyusunan berbagai kebijakan pembangunan. Dengan data yang akurat, pemerintah dapat merancang program pemberdayaan usaha, investasi, hingga bantuan yang lebih tepat sasaran," jelasnya.

Bagi Hendra, seluruh risiko yang dihadapi selama bertugas sebanding dengan manfaat besar yang akan dirasakan masyarakat. Ia meyakini setiap data yang dikumpulkan memiliki arti penting bagi penyusunan kebijakan pemerintah di masa mendatang.

Menurutnya, kesalahan dalam pendataan dapat berdampak panjang, mulai dari tidak tepatnya penyaluran bantuan hingga kurang optimalnya program pengembangan ekonomi daerah.

"Kalau datanya tidak valid, yang dirugikan justru masyarakat sendiri. Capek dan lelah selama di lapangan terasa terbayar ketika membayangkan data ini nantinya bisa membantu pemerintah membuat kebijakan yang benar-benar sesuai kebutuhan warga," tuturnya.

Semangat yang ditunjukkan Hendra menjadi gambaran dedikasi para petugas sensus di lapangan. Di balik angka-angka statistik yang nantinya tersaji dalam laporan resmi, terdapat perjuangan panjang para petugas yang harus menembus medan ekstrem, menghadapi cuaca yang tidak menentu, hingga membangun kepercayaan masyarakat demi menghadirkan data yang akurat sebagai fondasi pembangunan.(red/lis)

0 Comments:

Post a Comment