KOTA KEDIRI, iniberita.my.id – Pemerintah Kota Kediri terus menggencarkan upaya pengurangan angka kemiskinan dengan strategi yang menyeluruh dan melibatkan berbagai instansi. Penanganan kemiskinan tidak lagi dipandang sebagai sekadar soal ekonomi, melainkan persoalan kompleks yang membutuhkan sinergi lintas sektor.
Wakil Wali Kota Kediri, Qowimuddin Thoha, menegaskan bahwa Pemkot berkomitmen menghadirkan kebijakan yang inklusif dan solutif, sehingga tak ada satu pun warga yang tertinggal dari arus pembangunan.
“Kemiskinan tidak hanya soal pendapatan yang rendah, tapi juga akses terbatas terhadap pendidikan, layanan kesehatan, sanitasi yang layak, tempat tinggal yang memadai, dan kesempatan kerja yang adil,” ujar Gus Qowim, sapaan akrabnya, Selasa (14/7/2025).
Ia menekankan bahwa peran pemerintah daerah menjadi kunci, karena berada di garis depan dalam menyentuh langsung kehidupan masyarakat. Oleh sebab itu, penguatan Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) menjadi sangat vital dalam menyelaraskan berbagai program.
“TKPK menjadi wadah penting dalam mengintegrasikan upaya dari berbagai sektor, mulai dari perlindungan sosial, pemberdayaan ekonomi, pendidikan keterampilan, hingga pembangunan infrastruktur dasar,” lanjutnya.
Gus Qowim yang juga menjabat sebagai Ketua TKPK Kota Kediri, menguraikan bahwa upaya pengentasan kemiskinan tak bisa dijalankan sendiri-sendiri. Pemerintah pusat dan daerah harus berjalan beriringan, menjalankan program-program seperti Sekolah Rakyat, Makan Bergizi Gratis, ATM Beras, BOSDA, beasiswa, perbaikan rumah tak layak huni (RTLH), serta pelatihan keterampilan kerja.
Ia juga menegaskan pentingnya koordinasi dan evaluasi rutin terhadap seluruh program agar tepat sasaran dan dapat memberikan dampak nyata.
“Saya harap seluruh pihak bisa melaksanakan perannya dengan maksimal. Kita tidak hanya menyalurkan bantuan, tetapi memastikan dampaknya benar-benar dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Ketua TKPK Kota Kediri yang juga Sekretaris Daerah (Sekda), Bagus Alit, memaparkan bahwa angka kemiskinan di Kota Kediri pada tahun 2024 tercatat sebesar 6,51 persen, lebih rendah dibanding rata-rata Jawa Timur yang mencapai 9,79 persen.
Beberapa program unggulan yang mendukung agenda pembangunan Asta Cita dan Sapta Cita antara lain: program Merata, beasiswa pendidikan jenjang S1 hingga S3, beasiswa untuk atlet berprestasi, bantuan UMKM, dokter keluarga, Halo Warga, layanan kelurahan terpadu, mobil layanan keliling, hingga program kota inklusif untuk disabilitas.
Pemkot juga mengusung strategi penghapusan kemiskinan ekstrem yang terbagi menjadi tiga pendekatan utama:
Mengurangi beban pengeluaran masyarakat melalui berbagai skema bantuan sosial dan subsidi.
Meningkatkan pendapatan melalui pemberdayaan ekonomi lokal dan pelatihan kerja.
Menurunkan kantong kemiskinan dengan memperbaiki layanan dasar dan memperluas konektivitas antarwilayah.
Dalam kesempatan yang sama, Bagus Alit juga menyoroti pentingnya Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) sebagai basis pengambilan kebijakan. DTSEN memuat informasi lengkap tentang kondisi sosial dan ekonomi warga, yang telah diintegrasikan dengan data kependudukan.
Dengan basis data yang akurat dan program yang terkoordinasi, Pemkot Kediri optimis langkah percepatan pengentasan kemiskinan akan semakin efektif dan berkelanjutan.(red.al)

0 Comments:
Post a Comment