KOTA KEDIRI, iniberita.my.id – Cara unik diperlihatkan oleh sebuah komunitas pecinta sejarah dalam memperkenalkan nilai-nilai budaya dan warisan masa lalu kepada masyarakat. Lewat program “City Tour Tempo Doeloe”, mereka mengajak puluhan warga, dari anak-anak hingga orang dewasa, berkeliling kota menggunakan mobil klasik VW Safari menyusuri bangunan-bangunan cagar budaya dan situs bersejarah di Kediri.
Kegiatan ini dimulai pada Rabu pagi (9/7/2025), bertempat di Hutan Kota Joyoboyo, yang sejak pukul 08.00 WIB sudah dipadati peserta. Dengan mengenakan busana tradisional dan gaya tempo dulu, mereka tampak antusias mendaftarkan diri sebelum menaiki mobil VW terbuka yang telah berjajar rapi.
Tak hanya berkostum jadul, beberapa anak juga tampil mencolok dengan cosplay karakter anime, seperti Ghanim Aryasatya (8), yang mengenakan pakaian ala Luffy dari One Piece. Ia datang bersama orang tuanya, Ratih Kusuma Dewi dan Ferry Aji Hariyanto, serta kakaknya, Aisha.
“Anak-anak langsung tertarik begitu saya tunjukkan mobil VW-nya,” ujar Ratih, warga Desa Sukorejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri. “Mumpung libur sekolah dan suami juga libur, kami ajak mereka ikut kegiatan edukatif seperti ini.”
Sekitar pukul 09.00 WIB, konvoi tujuh mobil Volkswagen 181/182 Kurierwagen bergerak menuju titik pertama: Gedung Eks Karesidenan Kediri di kawasan Mojoroto. Gedung tua yang kini menjadi kantor Cabang Dinas Pendidikan Jatim itu menyimpan banyak cerita masa kolonial.
Setibanya di lokasi, para peserta disambut latihan tari Bedoyo oleh Sanggar Kediri Jayati. Beberapa peserta, termasuk Ratih dan Nugraheni Yuliastuti (49), bahkan ikut bergabung dalam latihan.
“Baru pertama kali saya menari seperti ini. Meski gerakannya pelan, ternyata butuh fokus dan ketahanan,” tutur Heni, panggilan akrab Nugraheni, yang mengaku menyukai kegiatan bertema sejarah.
Selain menyimak kisah sejarah gedung, peserta juga diajak melihat langsung proses pembuatan udeng khas Kediri yang dilakukan oleh Karang Taruna setempat. Namun sayangnya, sebagian peserta mengaku kecewa karena tidak bisa melihat rusa yang biasanya berada di halaman belakang gedung karena keterbatasan izin akses.
“Saya sudah semangat mau lihat rusa, ternyata nggak bisa masuk,” ujar Ratih sambil tersenyum.
Perjalanan berlanjut ke Pura Penataran Agung Kilisuci, tempat ibadah umat Hindu yang sarat makna spiritual dan sejarah. Meski tidak semua peserta bisa masuk karena aturan kesucian, mereka tetap menghormati dan melanjutkan tur ke destinasi berikutnya: Goa Selomangleng, kawasan pecinan, dan Jembatan Lama Kediri.
Ketua komunitas Pasak, Didin Saputro, menyebut kegiatan ini sebagai langkah kecil untuk membangkitkan minat masyarakat terhadap sejarah dan budaya lokal.
“Kediri ini kota tua yang kaya akan peninggalan bersejarah. Banyak bangunan dan cagar budaya yang masih bisa kita gali potensinya,” ungkapnya.
Senada dengan itu, ketua pelaksana kegiatan, Fida Shihab Az Zuhri, mengatakan bahwa kegiatan ini bukan hanya sekadar wisata, melainkan edukasi dan pelestarian.
“Lewat VW City Tour ini, kami ingin mengajak masyarakat lebih peduli terhadap nilai-nilai sejarah dan bangunan bersejarah yang masih ada di sekitar kita,” kata Fida.
City Tour Tempo Doeloe ini berhasil mengemas edukasi sejarah dalam balutan aktivitas yang menarik dan menyenangkan. Harapannya, kegiatan serupa bisa digelar rutin dan menjangkau lebih banyak kalangan.(red.al)

0 Comments:
Post a Comment