Genting Pulur, Kabupaten Kepulauan Anambas, iniberita.my.id - Keberagaman hasil laut Indonesia memang tiada habisnya, dan salah satu yang menonjol adalah potensi yang ada di Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau. Dengan luas perairan mencapai 46.033 km² atau sekitar 98% dari total wilayah, Anambas dikenal sebagai penghasil tangkapan laut yang melimpah, dengan mayoritas penduduknya menggantungkan hidup sebagai nelayan.
Salah satu desa yang menjadi pusat penghasil hasil laut di Anambas adalah Desa Genting Pulur, Kecamatan Jemaja Timur. Di desa ini, kepala desa Abdurrahman telah mengubah potensi alam menjadi peluang bisnis. Sejak 2019, ia mengembangkan usaha sotong yang memanfaatkan hasil tangkapan nelayan setempat. Abdurrahman menjelaskan bahwa mayoritas masyarakat di desanya bekerja di sektor perikanan, dengan sekitar 70% penduduknya adalah nelayan.
Usaha sotong ini dimulai dengan modal Rp 5 juta, dan Abdurrahman memanfaatkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) untuk belajar mengenai cara membeli sotong serta menjalankan bisnisnya. Seiring berjalannya waktu, usaha ini berkembang pesat dengan melibatkan 5 hingga 7 pekerja. Dalam sebulan, Abdurrahman meraup omzet sekitar Rp 10 juta, meski cuaca buruk terkadang mempengaruhi pendapatan.
Namun, yang membuat usaha ini semakin berkembang adalah kehadiran akses internet di Desa Genting Pulur. Internet yang disediakan oleh Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Informatika telah membawa perubahan signifikan bagi masyarakat desa, khususnya dalam memasarkan produk hasil laut mereka. "Dengan internet, kami bisa menjangkau pasar luar daerah seperti Tanjung Pinang, Bintan, dan bahkan Singapura," ungkap Abdurrahman.
Selain membantu pengusaha sotong, internet juga memberi manfaat besar bagi nelayan di desa tersebut. Mereka dapat membeli peralatan pancing sotong melalui e-commerce dan mempelajari teknik-teknik terbaru dalam menangkap sotong melalui video dan tutorial online. Bahkan, para nelayan bisa mempraktikkan ilmu yang didapat dari internet untuk meningkatkan kualitas hasil tangkapan mereka.
Abdurrahman, yang baru menjabat sebagai kepala desa selama sembilan bulan, berharap internet dapat meningkatkan kesejahteraan warga Genting Pulur, tidak hanya dalam bidang ekonomi, tetapi juga dalam pendidikan dan sektor perikanan. "Harapan saya, dengan adanya internet BAKTI ini, perekonomian desa saya semakin maju, dan tidak ada lagi yang miskin," ujar Abdurrahman.
Sulastry, salah seorang warga desa yang juga memanfaatkan internet untuk usaha sampingan, mengungkapkan manfaat besar yang dirasakan dari kehadiran internet. Selain berprofesi sebagai Kaur Tata Usaha dan Umum, Sulastry menjual kue dan roti dengan merek KhanajCake. Ia menggunakan fitur WhatsApp Stories untuk mempromosikan produk-produk buatannya. Dengan harga yang bervariasi, mulai Rp 15 ribu hingga Rp 350 ribu, Sulastry mampu meraup pendapatan hingga Rp 7-8 juta per bulan dari usaha kue.
Desa Genting Pulur yang dihuni 432 jiwa dan 136 kepala keluarga, kini merasakan dampak positif dari pembangunan 29 tower BTS yang telah dibangun di Kabupaten Kepulauan Anambas sejak 2012. Pembangunan ini merupakan bagian dari program Universal Service Obligation (USO), yang bertujuan untuk meningkatkan akses telekomunikasi di daerah-daerah terpencil. Dengan adanya internet, Desa Genting Pulur semakin terhubung dengan dunia luar, membuka peluang baru bagi warganya untuk berkembang. (Red.D)

0 Comments:
Post a Comment